Oleh Mustamin Raga
(Penulis Buku Senyap yang Bicara)
HARIAN.NEWS, GOWA – Di sebuah sudut sunyi di Tinggimae Kecamatan Barombong, selembar spanduk pernah terpampang. Ia tidak lahir dari denyut aspirasi warga. Ia tidak tumbuh dari kegelisahan yang panjang. Ia hadir dengan cepat—nyaris tanpa saksi—membawa pesan yang kasar, menjatuhkan, dan menuding seorang pejabat publik: Bupati Gowa.
Namun, kehadirannya lebih singkat dari kemarahan yang dikandungnya.
Tak lama setelah dipasang, spanduk itu lenyap. Yang tersisa bukan kainnya. Bukan tiangnya. Bukan pula ruang publik yang sempat disentuhnya.
Baca Juga : Baliho dan Spanduk ‘Adami Seto’ Mulai ‘Kepung’ Makassar
Yang tersisa adalah foto. Dan foto itulah yang kemudian hidup—beredar, diberitakan, dikomentari, dan dipercayai oleh banyak orang seolah-olah ia adalah potret dari kenyataan yang utuh.
Di titik ini kita sedang berhadapan dengan satu gejala komunikasi modern yang sangat berbahaya yaitu pseudo-event.
Istilah ini diperkenalkan oleh Daniel J. Boorstin, seorang pemikir yang sejak lama sudah memperingatkan bahwa di era media, manusia tidak lagi hanya mengabarkan peristiwa—tetapi mulai menciptakan peristiwa demi pemberitaan.
Pseudo-event bukanlah kejadian yang lahir dari realitas sosial yang organik. Ia adalah peristiwa yang dirancang, dipentaskan, dan dikemas agar terlihat seperti kenyataan. Tujuannya bukan untuk dipahami, tetapi untuk dipercaya secara cepat.
Baca Juga : Komunitas OS Kembali Ngobrol Produktif Dengan Pengusaha ‘Vinyl’ Hartono: Komitmen Kolaborasi
Spanduk di Barombong itu bukan komunikasi publik.
Ia adalah properti.
Ia adalah alat produksi.
Ia tidak pernah dimaksudkan untuk dibaca oleh masyarakat sekitar. Ia hanya perlu satu hal: difoto. Begitu kamera bekerja, peristiwa itu selesai. Begitu gambar beredar, kebohongan itu mulai hidup.
Dalam teori media dan komunikasi, pseudo-event memiliki beberapa ciri yang khas:
Pertama, ia direncanakan secara sengaja. Tidak ada spontanitas di dalamnya. Semua diatur: waktu pemasangan, lokasi, bahkan sudut pengambilan gambar.
Baca Juga : Aksi Subhan Depan Pelabuhan Makassar Bentangkan Spanduk ‘Minta Tolong ke Jokowi’
Kedua, ia ditujukan untuk diliput, bukan untuk dialami langsung. Artinya, nilai utamanya bukan pada kejadian itu sendiri, tetapi pada bagaimana ia tampil dalam media.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
