Logo Harian.news

PSEUDO-EVENT: Ketika Fitnah Tak Lagi Butuh Kenyataan

Editor : Andi Awal Tjoheng Rabu, 25 Maret 2026 18:24
Mustamin Raga ||dok_mustamin raga
Mustamin Raga ||dok_mustamin raga

Ketiga, ia sering kali mengandung dramatisasi atau sensasi. Pesannya dibuat tajam, bahkan provokatif, agar memancing perhatian dan emosi.

Keempat, ia menciptakan ilusi realitas. Publik yang melihat foto spanduk akan merasa bahwa itu adalah cerminan suara masyarakat, padahal bisa jadi tidak ada satu pun warga yang benar-benar terlibat atau bahkan mengetahui kejadian itu.

Dalam kasus Barombong, semua ciri ini hadir dengan utuh. Spanduk dipasang diam-diam.
Tidak ada dialog.
Tidak ada forum.
Tidak ada warga yang berkumpul. Namun setelah itu, seolah-olah muncul kesan bahwa ada gelombang penolakan, ada kemarahan publik, ada suara yang menggema. Padahal yang ada hanyalah sebuah adegan singkat yang dipinjamkan kepada kamera.

Baca Juga : Gowa Darurat atau Darurat Akal Sehat?

Mengapa cara seperti ini digunakan? Jawabannya sederhana, tetapi sekaligus mengkhawatirkan.
Karena pseudo-event adalah cara paling murah untuk menciptakan kesan besar.

Membangun gerakan nyata membutuhkan waktu, tenaga, dan keberanian. Mengumpulkan massa membutuhkan legitimasi.
Mengkritik secara terbuka membutuhkan risiko. Namun dengan pseudo-event, semua itu bisa dilewati.

Cukup dengan satu spanduk. Satu kamera. Dan satu jaringan distribusi media. Maka lahirlah sebuah “realitas” baru yang tidak pernah benar-benar ada.

Baca Juga : Baliho dan Spanduk ‘Adami Seto’ Mulai ‘Kepung’ Makassar

Selain itu, pseudo-event juga memberikan perlindungan bagi pelakunya. Karena ia berlangsung singkat dan senyap, jejaknya sulit dilacak. Ia seperti bayangan yang hanya muncul dalam foto, tetapi tidak pernah benar-benar bisa disentuh. Lebih jauh lagi, pseudo-event bekerja dengan memanfaatkan psikologi publik yang cenderung mempercayai visual.

Dalam dunia yang serba cepat, orang jarang bertanya: kapan ini terjadi? berapa lama? siapa yang menyaksikan langsung? Yang dilihat hanyalah gambar.

Dan gambar sering kali dianggap sebagai kebenaran. Di sinilah letak bahayanya.
Karena ketika foto bisa lebih dipercaya daripada fakta, maka kebenaran tidak lagi ditentukan oleh realitas, tetapi oleh siapa yang paling lihai mengatur panggung.

Baca Juga : Komunitas OS Kembali Ngobrol Produktif Dengan Pengusaha ‘Vinyl’ Hartono: Komitmen Kolaborasi

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]
Halaman
Penulis : YUSRIZAL KAMARUDDIN

Follow Social Media Kami

KomentarAnda