Lalu bagaimana melawannya?
Pertama, kita harus berani membongkar panggungnya.
Jangan terjebak hanya membantah isi spanduk. Itu penting, tetapi tidak cukup. Yang jauh lebih penting adalah mengungkap bahwa peristiwa itu sendiri adalah rekayasa.
Katakan dengan tegas: ini bukan aspirasi publik. Ini adalah adegan yang diproduksi. Ketika publik mulai melihat “belakang layar”, maka sihir pseudo-event akan runtuh.
Baca Juga : Gowa Darurat atau Darurat Akal Sehat?
Kedua, kita perlu menggeser perhatian dari konten ke konteks. Ajukan pertanyaan sederhana:
Di mana spanduk itu sekarang?
Berapa lama ia terpasang?
Siapa yang benar-benar melihatnya di lokasi?
Pertanyaan-pertanyaan ini akan membuka kenyataan bahwa “peristiwa besar” itu ternyata nyaris tidak punya keberadaan di dunia nyata.
Ketiga, lawan dengan realitas yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Tampilkan kerja nyata.
Tampilkan fakta lapangan.
Tampilkan suara masyarakat yang sebenarnya.
Karena pseudo-event hanya kuat sesaat, tetapi realitas yang konsisten akan selalu lebih tahan lama.
Baca Juga : Baliho dan Spanduk ‘Adami Seto’ Mulai ‘Kepung’ Makassar
Keempat, kita harus cerdas dalam menyikapi penyebarannya.
Setiap orang yang membagikan foto tanpa konteks dan tanpa keterangan yang jelas dan detail, sejatinya sedang menjadi bagian dari panggung yang sama. Maka jika harus menyebarkan, sertakan narasi pembongkaran. Jangan biarkan gambar itu berdiri sendiri.
Dan yang terakhir, kita perlu membangun kesadaran kolektif bahwa di era ini, tidak semua yang terlihat adalah nyata.
Bahwa ada peristiwa yang memang terjadi,
dan ada pula peristiwa yang diciptakan agar terlihat terjadi.
Spanduk di Barombong itu mungkin sudah lama hilang. Tiangnya mungkin sudah dicabut. Kainnya mungkin sudah dilipat atau dibuang. Tetapi pertanyaannya bukan lagi tentang di mana spanduk itu berada.
Pertanyaannya adalah:
di mana kita menempatkan akal sehat kita ketika melihatnya?
Karena sesungguhnya, pertarungan hari ini bukan hanya tentang benar atau salah,
melainkan tentang nyata atau rekayasa.
Baca Juga : Komunitas OS Kembali Ngobrol Produktif Dengan Pengusaha ‘Vinyl’ Hartono: Komitmen Kolaborasi
Dan jika kita gagal membedakan keduanya, maka kita sedang hidup dalam dunia di mana kebohongan tidak lagi perlu bertahan lama—
cukup hadir sebentar, difoto, lalu dipercayai selamanya.
Gerhana Alauddin, 24 Maret 2026
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
