Maka sore itu, Sinjai tak hanya mencatat cuaca, tapi juga satu episode kecil demokrasi yang ngopi sambil ngambek. Sebab di warung kopi, semua bisa menjadi apa saja: penguasa bisa jadi pengamat, pejabat jadi aktivis, dan secarik kertas—lebih gaduh dari seribu baliho.
Dan kopi pun tetap diminum. Karena di Sinjai, seperti di mana-mana, politik boleh panas—tapi warung kopi harus tetap buka. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]
Penulis : IRMAN BAGOES
