Logo Harian.news

Saya Bukan Wakil Bupati, Saya LSM, Flyer AI Bongkar Retaknya Kekuasaan Ratnawati–AMM

Editor : Andi Awal Tjoheng Sabtu, 31 Januari 2026 10:46
Flyer AI Wabup Sinjai, Andi Mahyanto Mazda ||| tangkaplayar_FB@infokejadiansinjai
Flyer AI Wabup Sinjai, Andi Mahyanto Mazda ||| tangkaplayar_FB@infokejadiansinjai

“Jika Wakil Bupati benar-benar dilibatkan, dihormati, dan diberi ruang kewenangan, akankah publik mudah percaya pada narasi (Saya bukan Wakil Bupati)”, kata Ahmad.

Lanjut dikatakan warga Sinjai Utara itu, Kini, pemerintahan Sinjai berada di persimpangan krusial. Masyarakat menunggu jawaban tegas, bukan keheningan. Apakah Bupati masih memimpin secara kolektif, atau Sinjai sedang dijalankan dengan kekuasaan satu tangan?!.

Berikut narasi: Secarik Kertas, Secangkir Kopi, dan Wakil Bupati yang Tiba-Tiba Jadi LSM

Baca Juga : AI Hanya Sebagai Alat Bantu, Wartawan Berintegritas Taat Kode Etik Jurnalistik

Suatu sore yang tampak biasa di sebuah warung kopi di Kota Sinjai—tempat waktu seolah melambat dan asap rokok bercampur aroma kopi hitam dicampur susu—terlihat Sang Wakil Bupati duduk santai. Kemeja dilipat sampai siku, wajah tenang tapi sorot mata menyimpan riak yang tak sepenuhnya jinak. Di sekelilingnya, tim inti setia menemani, berbincang ringan seolah dunia birokrasi sedang cuti sebentar.

Datanglah seorang wartawan terkemuka negeri ini, langkahnya pelan tapi niatnya berat. Dari tasnya, ia keluarkan selembar kertas—bukan puisi, bukan pula doa—melainkan daftar nama-nama calon pejabat versi “kubu mereka”. Kertas itu disodorkan, hati-hati, seakan menyodorkan bara api dalam lipatan rapi.

Belum sempat kopi diseruput, Sang Wakil Bupati—Mahyanto—tersenyum tipis. Senyum yang tak sepenuhnya ramah, tak pula marah. Lalu meluncurlah kalimat yang kelak akan berumur panjang dalam bisik-bisik warung kopi:

Baca Juga : Indosat Gandeng Perbankan dan Regulator Perkuat Sistem Anti Spam dan Scam Berbasis AI

“Saya tak punya urusan lagi. Saya bukan Wakil Bupati. Saya LSM.”

Sunyi sesaat. Sendok berhenti beradu dengan gelas. Angin sore ikut menahan napas. Kalimat itu jatuh seperti satire yang lupa bercanda—tajam, singkat, dan penuh makna.

Begitulah, di Sinjai, jabatan bisa larut lebih cepat dari gula aren dalam kopi panas. Sang Wakil Bupati—yang hari itu memilih menjadi “LSM”—seakan sedang ngambek pada takdir politiknya sendiri. Bukan mundur, tapi melangkah ke samping. Bukan melepas kuasa, tapi menaruhnya di meja, persis di samping cangkir kopi yang mulai dingin.

Baca Juga : Dampak AI bagi Kaum Minoritas

Para tim saling pandang. Wartawan mengernyit, antara ingin tertawa dan mencatat. Sebab di negeri ini, kata-kata pejabat sering lebih jujur saat diucapkan di warung kopi ketimbang di podium resmi.

“LSM,” katanya. Tiga huruf yang terdengar ringan, tapi menyimpan sindiran berat: bahwa kekuasaan kadang terasa sempit, dan kursi empuk bisa membuat punggung pegal. Atau barangkali, ini sekadar cara elegan untuk berkata: biarlah orang lain yang bermain, aku sedang menepi.

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]
Halaman
Penulis : IRMAN BAGOES

Follow Social Media Kami

KomentarAnda