Oleh: Dewi Setiawati
(Dosen FKIK UIN Alauddin Makassar
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, Klinik Wirahusada Makassar)
HARIAN.NEWS – “Ini kartu apa, Ma?” tanyaku sambil membantu mama merapikan berkas-berkas pentingnya.
Mama menghentikan tangannya, lalu tersenyum kecil.
“Itu kartu ucapan lama… dari bapakmu, tahun 1977.”
Kertasnya sudah menguning. Sudut-sudutnya rapuh dan lusuh. Di sana tertulis sederhana, namun hangat: “Teruntuk seseorang yang spesial.”
Pengirimnya: seorang pasien yang pernah dirawat bapak di rumah sakit.
Dulu, kartu itu pasti disertai setangkai bunga. Entah warnanya apa, tetapi aku bisa membayangkan ketulusan yang menyertainya. Aku tertawa pelan.
“Tidak menyangka ya, Ma… ternyata bapak romantis.”
Mama hanya tersenyum.
Bapak memang bukan lelaki yang gemar mengekspresikan cinta dengan kata-kata manis. Namun perhatiannya selalu hadir dalam bentuk paling nyata dan itu kami, anak-anaknya, rasakan sepenuhnya: aku, adikku Diana Muchsin dan Harun Muchsin, serta kakak kami Wachyudi Muchsin.
Aku kembali merasakannya saat menjalani proses persalinan di kamar bersalin sebuah rumah sakit di kampungku, Palopo. Di balik tirai, bapak menunggu kelahiran cucunya.
Setiap kali kontraksi datang dan aku mengerang menahan nyeri, dari balik tirai terdengar suara bapak ikut mengerang seolah rasa sakit itu menjalar ke tubuhnya. Seperti gema suaraku yang memantul berulang, menggaung.
Aku sampai harus berpura-pura kuat. Menahan suara. Bukan demi diriku, melainkan demi bapak agar beliau tidak ikut menanggung rasa sakit yang seharusnya menjadi bagianku.
Sejak saat itu, setiap kali kami, anak-anak perempuannya, akan melahirkan, bapak selalu “kami tugaskan” berdoa di rumah saja. 😁
Bukan karena kami tidak ingin ditemani, tetapi karena kami khawatir justru bapak yang tumbang lebih dulu. Cinta bapak terlalu simpatik, terlalu jujur, dan terlalu dalam.
Ada satu kebiasaan bapak yang selalu berulang setelah aku melahirkan: beliau akan memintaku segera ber-KB. Bukan karena tidak menginginkan cucu, melainkan karena tak tega melihat anak perempuannya kelelahan, kesakitan, dan larut dalam fase terberat pengasuhan.
Di situlah aku memahami, cinta orang tua tidak pernah hilang bahkan ketika anaknya telah menjadi orang tua.
Bapak adalah sosok yang tak pernah berhenti belajar. Rak bukunya penuh, dan ia membaca dengan sungguh-sungguh. Demi memastikan kecukupan gizi kami, ia membeli buku-buku ilmu gizi, lalu mempraktikkannya. Mungkin juga agar ketika berdiskusi dengan mama yang bergelut di dunia kedokteran ia bisa memahami, menyambung, dan sejajar.
Dari bapak aku belajar, bahwa kepala keluarga bukanlah yang paling merasa tahu, melainkan yang mau belajar dan mengesampingkan ego, bahkan menembus batas-batas patriarki.
Sebagai pendidik, bapak mendidik dengan kasih sayang dan disiplin. Penuh perhatian, tetapi tidak memanjakan.
Ada satu peristiwa yang dulu sempat menyisakan luka kecil di hatiku. Setelah aku menyelesaikan pendidikan spesialis sebagai dokter kandungan, aku ingin membeli alat USG sederhana. Harganya cukup mahal kala itu. Aku memberanikan diri meminta bantuan ingin meminjam uang dari bapak.
Namun bapak hanya diam.
Tidak mengiyakan. Tidak pula menolak.
Aku pulang dengan hati berat. Dalam diamku muncul tanya: mengapa bapak tidak membantu anaknya sendiri?
Waktu kemudian mengajarkanku makna dari diam itu. Ternyata diam bapak adalah pendidikan. Sebuah stimulus agar aku berdiri di atas kakiku sendiri. Agar aku tidak manja, tidak instan, tidak bergantung. Bapak ingin aku merasakan proses, jatuh-bangun, serta tanggung jawab penuh atas pilihanku.
Inilah parenting yang hidup bukan sekadar teori, tetapi praktik. Bapak memahami bahwa anak adalah amanah. Bukan untuk dimanjakan, melainkan dipersiapkan.
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kekuatan iman dan karakter dibangun lewat keteladanan, bukan kemudahan semu. Dan bapak menanamkan itu tanpa banyak ceramah—melainkan lewat sikap, kepercayaan, dan doa-doa yang tak terdengar.
Kini aku mengerti. Cinta bapak bukan cinta yang riuh. Ia tenang, namun mengakar. Tidak selalu hadir dalam kata, tetapi nyata dalam arah hidup yang ia tunjukkan.
Orang tua terbaik bukanlah yang selalu memudahkan jalan anaknya, melainkan yang menyiapkan anaknya untuk kuat berjalan sendiri sambil diam-diam bersujud kepada Allah, menitipkan setiap langkah dalam doa.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
