Pentingnya Memahami Hukum Jual Beli pada Waktu Pelaksanaan Shalat Jum’at
JAKARTA,HARIAN.NEWS – Saat waktu shalat Jumat hampir tiba, sering kali terlihat banyak kaum muslimin sibuk dengan berbagai aktivitas, termasuk jual beli, yang bisa mengakibatkan mereka mengabaikan kewajiban melaksanakan shalat Jumat.
Meski alasannya belum jelas, baik tidak tahu atau dilakukan dengan sengaja, penting bagi kita semua untuk memahami konsep ini.
Baca Juga : Nikmati Akhir Pekan, Jokowi Ajak Cucu Shalat Jumat Berjemaah
Namun, tanpa memandang alasannya, tulisan singkat ini sejatinya merupakan bentuk tawaashau bil haq wa thawaashau bis shabr, atau saling mengingatkan dalam kebenaran dan ketekunan.
Tulisan ini diharapkan menjadi pengingat bagi penulis dan kaum muslimin pada umumnya tentang pentingnya untuk tidak terlibat dalam aktivitas-aktivitas yang akhirnya bisa menghalangi pelaksanaan shalat Jumat.
Dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam Surah al-Jumu’ah [62]:9, Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum‘at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” Ayat ini secara tersirat mengandung perintah untuk melaksanakan shalat Jumat tanpa adanya gangguan aktivitas jual beli.
Baca Juga : Teks Khutbah Jumat: Wahai Para Pemuda, Segeralah Menikah
Para fuqaha, atau ahli fikih, memberikan penjelasan lebih lanjut tentang ketentuan ini. Tidak semua jenis jual beli atau aktivitas yang dilakukan pada saat pelaksanaan shalat Jumat dianggap haram.
Dr. Muhammad az Zuhaili dalam kitab al Mu’tamad Fil Fiqhi Asy Syafi’i, menjelaskan beberapa kondisi terkait jual beli saat shalat Jumat:
Diperbolehkan melakukan jual beli sebelum masuk waktu shalat Jumat (قبل الزوال) dan tidak dianggap makruh bagi pihak-pihak yang terlibat, seperti jual beli di waktu Dhuha.
Baca Juga : Jumat Barokah, Rutinitas Haji Rangga Bagikan Nasi Kotak Bagi Jamaah Masjid
Tidak dianggap makruh melakukan jual beli setelah shalat Jumat berakhir, sesuai dengan firman Allah ﷻ QS al Jumu’ah [62]:10, “Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.”
Tidak dianggap haram atau makruh jika dua pihak yang terlibat dalam jual beli bukanlah yang wajib melaksanakan shalat Jumat, bahkan jika dilakukan pada pertengahan waktu shalat Jumat.
Dianggap makruh tanzih melakukan jual beli ketika:
a. Dua pihak yang terlibat adalah mereka yang wajib melaksanakan shalat Jumat.
b. Jual beli dilakukan setelah tiba waktu Jum’at (Ba’da Zawal).
c. Sebelum imam datang atau sebelum imam duduk di atas mimbar.
d. Sebelum adzan kedua dikumandangkan.
Dianggap haram melakukan jual beli setelah imam duduk di atas mimbar dan muadzdzin telah mengumandangkan adzan kedua, berdasarkan ayat QS al Jumu’ah ayat 9.
Dalam konteks salah satu pihak yang tidak wajib melaksanakan shalat Jumat, Dr. Muhammad az Zuhaili menjelaskan bahwa jual beli akan dianggap haram jika salah satu pihak adalah orang yang wajib shalat Jumat dan pihak kedua tidak wajib melaksanakan shalat Jumat.
Kedua belah pihak tetap berdosa, karena pihak pertama seharusnya menjalankan kewajibannya untuk shalat Jumat, sementara pihak kedua juga berdosa karena turut melalaikan kewajiban pihak pertama.
Dalam situasi tertentu, jika seorang yang wajib shalat Jum’at mendengar seruan adzan Jumat dan menuju masjid, tetapi melakukan jual beli di perjalanan menuju masjid atau setelah tiba di masjid, jual beli tersebut tidak dianggap haram. Namun, melakukan jual beli di dalam masjid dianggap makruh. Ini karena tujuan larangan meninggalkan jual beli dalam ayat QS al Jumu’ah ayat 9 adalah untuk mencegah penundaan menuju masjid.
Kesimpulannya, penting bagi kaum muslimin untuk memahami ketentuan agama terkait jual beli saat pelaksanaan shalat Jumat. Jika seseorang termasuk dalam golongan yang wajib shalat Jum’at, sebaiknya ia menjauhkan diri dari aktivitas yang bisa menghalangi pelaksanaan ibadah tersebut.
Selain itu, penting untuk mengutamakan pelaksanaan shalat Jumat dan tidak sampai terpengaruh oleh pekerjaan atau aktivitas lain. Sehingga, sebaiknya kita berupaya untuk bersiap-siap dari awal waktu agar dapat melaksanakan shalat Jumat tepat waktu. Allahu A’lam Bis Shawab. ***
Referensi:
Muhammad az Zuhaili, Al Mu’tamad Fil Fiqhi Asy Syafi’i, (Darul Qalam : 2018, Damaskus) Juz 1.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
