Logo Harian.news

Sulsel Butuh Panglima Ta

Editor : Redaksi Minggu, 03 Desember 2023 08:58
Sulsel Butuh Panglima Ta
APERSI

Oleh  : Ridha Rasyid

(Pemerhati  Kepemerintahan)

Baca Juga : Maju Pilgub Sulsel, Panglima Ta Melamar di PKB

Hiruk  pikuk  di tahun politik demikian beragam. Ada  analisis yang rasional dan adapun Ir-rasional. Tidak hanya pada tataran lokal ataupun nasional. Semuanya bertumpu pada upaya menerjemahkan apa yang bakal terjadi dengan apa yang kini sedang berlangsung.

Betapa tidak, “gemuruh” suara sumbang  dan saling mengejek atau bahkan menjatuhkan satu sama lain berseliweran  di media sosial, di satu sisi. Pada sisi lainnya,  media mainstream justru menafikan apa yang sesungguhnya terjadi di tengah tengah masyarakat, sehingga seringkali narasi yang muncul adalah di balik layar ada fakta yang tak terungkap.

Nyaris, literasi yang seyogyanya menjadikan para “penyimak” makin mampu mendalami sisi sisi yang positif, tetapi justru yang terkonfirmasi adalah hal negatif. Deskripsi ini bukanlah hal yang luar biasa, sejatinya. Bisa terjadi kapan dan di mana saja. Kembali kepada kita bagaimana menyikapi secara arif informasi itu menjadi hal yang memperkaya pemahaman kita tentang makna demokrasi.

Baca Juga : Hadir di Universitas Pepabri, Panglima ta’ Sampaikan Kuliah Kepemimpinan

*Antara Pileg, Pilpres dan Pilkada*.

Demokrasi ala Indonesia_ adalah demokrasi yang pada prakteknya paling rumit di dunia dalam pelbagai perspektif. Tidak saja bagaimana mendefinisikan demokrasi ala Indonesia dengan demokrasi yang berlaku umum di dunia. Dengan model penyelenggaraan seperti ini, Indonesia diasumsikan melaksanakan demokrasi itu sesuai dengan kearifan ketimuran  dari postur  demografi dan geografis.

Oleh karenanya, _demokrasi ala Indonesia_ tidaklah identik dan persis dengan demokrasi di negara lainnya. Itu juga menunjukkan kepada kita bahwa sesungguhnya demokrasi bukanlah satu satunya sistem yang paling baik dalam berbangsa maupun bernegara. Mengapa demokrasi itu dipersepsikan  sebagai sistem yang banyak dipergunakan dan dianggap terbaik oleh karena, _pertama_, bahwa demokrasi bermuara pada partisipasi rakyat secara luas dalam hal pengambilan keputusan termasuk dalam peralihan kepemimpinan, _kedua_, bahwa demokrasi dari sisi _ongkos_ relatif lebih murah dan mudah di banding dengan sistem lainnya. Ongkos di maksud disini, tidak saja dari sisi biaya tetapi menghindarkan  dari sikap semena mena dalam penyelenggaraan negara dan pemerintahannya.

Atas dasar itu,  lahirlah kesepakatan umum bangsa bangsa di dunia memprekatekkan  demokrasi itu ke dalam sistem  yang dijalankan suatu negara dengan presisi bahwa demokrasi menjadikan rakyat sebagai pemilik kedaulatan untuk di”amanahkan” kepada mereka yang dapat mewakili nya menjalankan pemerintahan. Kesepakatan negara berdaulat itu diwujudkan melalui sebuah proses  pemilihan umum.

Memasuki tahun politik  2023 -2024 yang terpenting dipahami bahwa  dengan pemilihan serentak dalam waktu yang bersamaan, yaitu pemilihan anggota legislatif, pemilihan presiden dan dewan perwakilan daerah (senator) sebagai tolok ukur dan jembatan peralihan kekuasaan  serta pilihan rakyat kepada mereka yang mewakilinya. Pemilihan pemilihan tadi adalah cerminan dari kebutuhan rakyat akan siapa yang dikehndakinya untuk  menyelenggarakan fungsi fungsi lembaga yang ada dalam mengelola negara. Pemilihan serentak dalam waktu bersamaan ini bukanlah hal yang mudah, terlebih jika  komitmen terwujudnya penyelenggaraan pemilihan umum yang langsung, umum, bebas dan rahasia serta komitmen untuk jujur dan adil itu dapat diwejawantahkan sesuai apa yang seharusnya terjadi. Mungkinkah hal ini terjadi. Jawaban sederhana ya, terpulang kepada banyak pihak, terutama penyelenggara, para kontestan, media, masyarakat dan tentu saja  eksekutif yang mengawal jalannya  kompetisi politik ini.
Harapan kita adalah melahirkan sosok dan figur presiden, wakil presiden, anggota legislatif yang mumpuni dan para senator  yang memperjuangkan kebutuhan dan kepentingan daerah yang tentu saja muaranya adalah kesejahteraan rakyat.

*Andi Muhammad Bau Sawa Mappanyukki*

Sebagai inti dari tulisan ini, mengapa Sulawesi Selatan membutuhkan tokoh dengan latar belakang militer  mumpuni dan manusiawi? Ada beberapa latar belakang pemikiran, _pertama_, Andi Muhammad Bau Sawa Mappanyukki  ( *AMBSM*) adalah putra Sulawesi Selatan yang relatif jujur, taat beribadah, paham akan budaya dan adat istiadat  dan bersih dari praktek  koruptif, _kedua_ dengan pengalaman tugas diberbagai daerah selama lebih tiga dasawarsa , sarat pengalaman dalam “meneropong” pemerintahan di wilayah  di mana ditugaskan.  Sebagai “komandan” tentu sangat tahu bagaimana memenej  orang orang untuk bekerja sesuai  tugas dan fungsi, _ketiga_,, Sulawesi Selatan ini *_merindukan_* tokoh yang punya komitmen untuk membawa Sulsel Maju, Bermartabat,  Sejahtera  dan Berkeadilan.

Selain itu, *AMBSM* tidak terkontaminasi carut marut politik yang hampir tanpa etika itu. Panglima Ta, sapaan akrabnya,  selalu tampil santun dan mengedepankan tutur kata yang sederhana dan mudah dimengerti. Punya kepedulian sosial tinggi terhadap semua orang tanpa membedakan dan latar belakang, _keempat_, bahwa *AMBSM* punya kemauan untuk membaktikan diri sepenuhnya untuk kepentingan rakyat Sulawesi Selatan.  Ini bukanlah hal yang sulit untuk dia manifestasikan.

Selain karena ia bukan kader dari partai politik, juga  mengurus Dewan Masjid Indonesia  Sulawesi Selatan , Ketua Legiun Veteran Sulselra juga Ketua Pepabri Sulsel, yang kesemuanya bukanlah organisasi berorientasi politik praktis di satu pihak,  pada pihak lainnya, ketika diberi amanah untuk diusung oleh partai politik sebagai suatu keniscayaan demokrasi, maka tentu dengan sikap terbuka, tegas dan disiplin akan menjalankan apa yang sudah menjadi penugasan dari partai untuk kepentingan rakyat.
Bahwa Panglima  Ta yang merupakan akronim dari tagline
*P* = _Profesional_
*A* = _Agamis_
*N* = _Nasionalis_
*G*= _Gotong Royong_
*L* = _Loyal_
*I* =_ Inovatif_
*M*= _Maju_
*A* = _Amanah_
*T* = _Tangguh_
*A* = _Akuntabel_

Adalah integratif dari apa yang *AMBSM* akan lakukan ketika diberi kesempatan oleh partai politik dan rakyat Sulawesi  Selatan  memilihnya sebagai pemimpin.
Yang pasti, bahwa Sulawesi  Selatan  dalam pikiran sederhana saya membutuhkan sosok pemimpin seperti *AMBSM*, dan in syaa  Allah akan menjadikan Sulawesi Selatan  dan rakyat Sulawesi Selatan  lebih maju, bermartabat, sejahtera  dan berkeadilan.

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]

Follow Social Media Kami

KomentarAnda