Selain membahas manfaat budidaya maggot, peserta juga mendapatkan materi mengenai karakteristik lalat BSF, siklus hidupnya, teknik budidaya, pemilihan lokasi, pengelolaan pakan, hingga pengendalian hama.Pemateri menjelaskan bahwa maggot siap dipanen pada umur 14–18 hari dan memiliki kandungan protein tinggi sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan alternatif bagi ikan maupun ternak.
Melalui kegiatan ini, TIM CARA’DE BEM KMF TP UH berharap masyarakat Desa Tinggimae mampu menerapkan budidaya maggot secara mandiri sebagai upaya mengurangi timbunan sampah organik, menjaga kebersihan lingkungan, serta membuka peluang usaha baru yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat.
Baca Juga : Sampah dan Hipertensi Jadi Fokus Hasil PBL Mahasiswa FKM Unhas di Majjelling Wattang
Di akhir kegiatan, Andi Bambang Suriansya, S.Pi., M.Si. berharap Desa Tinggimae dapat berkembang menjadi desa percontohan budidaya maggot sehingga mampu menginspirasi desa-desa lain dalam menerapkan pengelolaan sampah organik yang berkelanjutan melalui budidaya Black Soldier Fly. ***
(BSF)
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
