Logo Harian.news

Toleransi Otentik Bukan Sekedar Basa Basi

Editor : Redaksi Kamis, 29 Desember 2022 15:42
Muh. Ikbal Majid.
Muh. Ikbal Majid.

OPINI

Oleh : Muh. Ikbal Majid

 

Baca Juga : Mengupas Gaya Kepemimpinan Andi Amran Sulaiman

“Sebuah refleksi mengenang 15 tahun kematian Om Bob”

HARIAN.NEWS – Awal tahun 2005 salah seorang sahabat saya yang bernama bobby sutisna mampir di kos-kosan saya di jalan kiyai tapa depan fakultas kedokteran gigi universitas Trisakti Jakarta Barat, om bob sapaan akrab kami teman-teman dekat beliau yang kebetulan bebagai latar belakang pekerjaan namun punya bisnis yang sama yakni bisnis network marketing di bisnis inilah kami mendapatkan banyak teman yang dalam keseharian kami sudah seperti saudara termasuk om bob salahsatunya.

Di pagi hari kala itu sebelum saya beranjak kekantor om bob minta waktu sedikit untuk berbicara serius dengan saya dan rupanya beliau minta untuk tinggal bersama saya di kontrakan yang berukuran 6×4 meter persegi itu dan sebagai sahabat bahkan saya menganggap beliau sebagai kakak atau senior di jakarta maka saya pun tidak keberatan untuk tinggal satu atap bersama beliau.

Baca Juga : Quantum Leap Makassar 2040: Dari Gerbang Menjadi Destinasi Kota Berkelas Dunia

Waktu terus berjalan kami tinggal bersama om bob dengan keyakinan yang berbeda, om bob yg beragama Katolik dan saya sebagai muslim bukan menjadi penghalang bagi kami untuk saling berbagi rasa dan saling memotivasi untuk hidup yang lebih baik demi masa depan dan yang lebih esensial adalah saling menghormati atas keyakinan masing-masing dan inilah yang disebut dalam al Quran *Lakum dinukum waliyadin*

Sebagaimana layaknya orang yang tinggal serumah pada umumnya selain kami saling bercanda kami juga berbagi pengalaman walaupun beliau yang lebih banyak makan asam garam tinggal di ibukota, tak jarang diantara kami berbincang tentang keyakinan kami masing-masing, saya terkadang sedikit nakal kalau habis shalat magrib dan om bob berdoa sore dalam waktu yang hampir bersamaan waktunya sesekali saya tanya om bob dengan pertanyaan setengah bercanda “bagaimana perasaan om bob kalo mendengar saya shalat?? Dia paling menjawab ” Ah biassa aja” dengan tertawa terbahak-bahak” terkadang di kesempatan lain om bob yang sedikit nakal kepada saya dengan narasi “bal (panggilan akrab saya dari om bob) kalau masih muda ga usah terlalu fanatik beragama sampeyan ga usah terlalu rajin shalat” Tentu kata-kata itu disambung om bob dengan tertawa terbahak-bahak ciri khas beliau.

Om bob yang asli cilacap adalah mantan pegawai di salah satu kementerian di ibu kota namun beliau pensiun dini dan menekuni network marketing namun dinamika bisnis yang pasang surut menyebabkan kondisi ekonomi sangat dinamis pula sehingga sedikit banyaknya menjadi penyebab runtuhnya rumahtangga beliau dan berpisah dengan anak dan istrinya, itulah salah satu uraian pengalaman pahitnya yang pernah diceritakan pada saya.

Baca Juga : KORMI Memaknai Kota Mulia

Ketika waktu sudah menginjak satu tahun om bob tinggal numpang ditempat saya beliau mengajak saya mengunjungi rumah kakaknya di kawasan ciputat, om bob memperkenalkan saya kepada kakak kandung beliau yang juga seorang pendeta, om bob banyak bercerita tentang saya sebagai anak muda dari makassar yang merantau di jakarta didepan kakak dan kakak iparnya, saat dalam pertemuan itu om bob diminta oleh kakaknya kembali ke ciputat untuk menghuni salah satu rumah kakaknya yang sudah kosong namun om bob tetap memilih untuk tinggal bersama saya dengan berbagai alasan yang logis yang di kemukakan kepada kakak dan kakak iparnya pada saat itu.

Om bob jatuh sakit

Genap dua tahun om bob tinggal bersama saya di jalan kiyai tapa om bob jatuh sakit terkena serangan jantung di kantor bisnis kami di sudirman tower lantai 17 dan saat itu pula om bob kami antar kerumah sakit jakarta belakang kampus UKI ATMAJAYA, sesampai di rumah sakit jakarta om bob lansung diberi pertolongan pertama di ruang ICU, setelah diperiksa secara seksama oleh dokter dirumah sakit tersebut akhirnya pihak rumah sakit menyimpulkan bahwa om bob kena serangan jantung koroner dan harus dirujuk ke rumahsakit pusat jantung HARAPAN KITA, petang itu saya mendampingi om bob dengan sebuah ambulance dari rumah sakit jakarta menuju rumahsakit harapan kita dan kali itu pulalah saya pengalaman pertama naik ambulance selama hidup saya,setelah saya tiba di rumahsakit jantung harapan kita barulah saya menelpon teman-teman bisnis yang berkantor di sudirman tower, maka mereka berdatangan di rumah sakit untuk membesuk om bob.

Ketika om bob sudah dimasukkan kembali ke ruang ICU selanjutnya saya dipanggil oleh pihak rumah sakit dan ditanyai siapa keluarga terdekatnya pasien atas nama bobby sutisna maka spontan teman-teman kantor menunjuk saya sebab mereka semua tau bahwa om bob tinggal bersama saya, dan saya pun bersedia untuk memberikan KTP sebagai keluarga dekat om bob, sejak tiba di rumah sakit jantung harapan kita sudah masuk hari kedua om bob belum juga menyadarkan diri di ruang ICU sehinga saya pun susah untuk pulang kerumah untuk ganti pakaian, dihari ketiga dengan sangat terpaksa saya meninggalkan om di ruang ICU sebab pakaian saya sudah mulai tidak sedap dan dalam perjalanan menuju kos-kosan itulah saya baru teringat kalau om bob punya saudara di ciputat yang pernah saya kunjungi bersamanya beberapa bulan sebelumnya.

Baca Juga : Semangat Sumpah Pemuda di Era Validasi

Setelah saya tiba di kos-kosan saya pun mandi ganti pakaian dan menyiapkan segala sesuatunya untuk persiapan nginap dirumah sakit sekitar jam 20.00 saya kembali kerumah sakit untuk menjaga om bob dan esok harinya saya memberanikan diri untuk untuk menemui dokter yang menangani om bob dan melaporkan bahwa om bob punya keluarga di ciputat dan dokter pun meminta saya segera menemui kakak om bob di ciputat sebab kondisi om bob sangat kritis dan pagi itu saya bergegas ke ciputat untuk menyampaikan kepada keluarganya bahwa om bob sedang kritis di harapan kita.

Setelah itu saya kembali kerumah sakit harapan kita dan kondisi om bob makin memburuk tidak lama kemudian keluarga om bob pun tiba dirumah sakit dengan kondisi yang sangat sedih melihat dari jauh om bob sedang kritis di ruang ICU, kurang lebih dua jam kakak Om bob pulang dan berjanji ke saya akan langsung pergi mencari anak dan mantan istri om bob, ternyata pencarian mereka berhasil sebab putri om bob tiba diruang ICU sekitar jam 5 sore namun dia datang hanya hitungan menit mengintip ayahnya dari jauh dan mengaku bahwa dia putri om bob lalu dia berlalu tanpa sedikit pun pesan atau rasa sedih yang tampak dari raut wajahnya.

Hari kelima om bob diruang ICU om bob dinyatakan meninggal dunia oleh dokter dan lagi-lagi saya diminta oleh dokter untuk menyampaikan kepada keluarganya bahwa om bob sudah meninggal dan saya pun menghubungi via telpon maka berselang beberapa lama keluarga om bob tiba diruang jenazah namun saya diminta keluarga om bob untuk menjaga sampai mayat om bob selesai dikremasi sebab nama saya yang telanjur terdaftar sebagai keluarga dekat yang bertanggungjawab dan lagi-lagi ini adalah pengalaman pertama saya melihat mayat dikremasi secara langsung.

Inilah pengalaman saya bersama seorang sahabat yang berbeda keyakinan dengan saya yang bernama bobby sutisna mulai dari masa sehatnya yang numpang dua tahun di tempat kos-kosan saya sampai menjaga waktu sakitnya dan menjaga mayatnya saat dikremasi.

Semua ini terjadi secara alamiah sebab hubungan sosial antara manusia tidak bisa dibatasi oleh Sekat-sekat primordial dan keyakinan sepanjang tidak merasuk kedalam persoalan ibadah atau aqidah sebab dalam agama hal ini disebut sebagai hubungan muamalah dan yang demikian ini harus terbangun dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia yang majemuk sebab inilah yang disebut toleransi yang otentik bukan basa basi atau sekedar teori.

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]

Follow Social Media Kami

KomentarAnda