Meski optimistis, Wamenpar tidak menutup mata terhadap sejumlah pekerjaan rumah yang masih membayangi. Infrastruktur yang perlu ditingkatkan, pengelolaan lingkungan yang lebih baik, hingga penanganan sampah menjadi isu krusial.
Untungnya, perhatian besar Presiden terhadap pembangunan Bali menjadi momentum strategis. “Mari kita bergotong royong menyelesaikan berbagai persoalan yang ada di Bali,” ajak Wamenpar.
Wamenpar menekankan bahwa standar event global kini telah bergeser. Tidak cukup hanya menggelar acara besar. Event modern harus memenuhi standar lingkungan, sosial, dan tata kelola yang bertanggung jawab.
“Event saat ini sudah dituntut memiliki standar yang memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola. Bukan sekadar menyelenggarakan kegiatan, tetapi memastikan dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat,” jelasnya.
Gubernur Bali Wayan Koster memberikan catatan tegas kepada kepengurusan baru BaliCEB. Ia menekankan pentingnya program kerja yang terukur dan komitmen konkret selama lima tahun ke depan.
“Sehingga BaliCEB benar-benar dapat memainkan peran strategis dalam pengembangan pariwisata, khususnya sektor MICE di Bali,” tegas Koster.
Ketua Umum BaliCEB terpilih, Ketut Jaman, memaparkan lima agenda utama yang akan menjadi kompas kepengurusannya:
Pertama, penguatan positioning Bali sebagai destinasi MICE global berbasis budaya dan keberlanjutan. Kedua, peningkatan promosi internasional dan perluasan jejaring global. Ketiga, penguatan strategi bidding event internasional secara aktif dan terstruktur. Keempat, peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor MICE. Kelima, penguatan standar layanan, pemanfaatan teknologi, keamanan, dan praktik keberlanjutan.
Yang tak kalah penting, BaliCEB berkomitmen memastikan manfaat ekonomi MICE menetes hingga ke akar rumput.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
