HARIAN.NEWS, JAKARTA – Kementerian Haji dan Umrah Indonesia mencatatkan sejarah baru dalam pelaksanaan ibadah haji 2026.
Sebanyak 33,2 persen dari total petugas haji tahun ini adalah perempuan, angka yang jauh melampaui target awal kementerian yang hanya mematok kuota 30 persen.
Keputusan ini bukan tanpa alasan, mengingat mayoritas jamaah haji Indonesia adalah perempuan.
Baca Juga : Rekrutmen Petugas Haji 2026 Bakal Dibuka November 2025, Ini Syaratnya!
Menurut Wakil Menteri Haji, Dahnil Anzar Simanjuntak, kehadiran lebih banyak petugas perempuan bertujuan untuk memberikan kenyamanan dan pelayanan lebih humanis, terutama dalam hal-hal yang bersifat privat dan terkait dengan ibadah wanita.
Empati dan Pendekatan Personal dalam Pelayanan
Selain angka statistik yang mengesankan, Dahnil menegaskan bahwa kebijakan ini juga menekankan pentingnya pendekatan empatik dalam pelayanan.
Baca Juga : 259 Jamaah Haji Takalar Siap Berangkat!
Sebagian besar jamaah haji perempuan merasa lebih nyaman saat berinteraksi dengan sesama perempuan, terutama dalam konsultasi ibadah atau kesehatan kewanitaan yang sangat pribadi.
Dengan hadirnya petugas perempuan, diharapkan jamaah perempuan merasa lebih diterima dan dihargai, terutama saat mengungkapkan kekhawatiran atau pertanyaan sensitif terkait ibadah atau kondisi tubuh mereka selama ibadah haji.
“Banyak jamaah perempuan merasa canggung jika harus berbicara tentang masalah pribadi dengan petugas laki-laki. Dengan adanya petugas perempuan, mereka bisa lebih terbuka dan merasa lebih nyaman,” ungkap Dahnil, Sabtu (17/1/2026).
Baca Juga : Haji 2025: Kartu Nusuk Pertama Diserahkan ke Indonesia
Evaluasi dan Proyeksi Kebijakan di Masa Depan
Kementerian Haji memastikan kebijakan ini akan terus dievaluasi secara berkala. Target ke depannya adalah menjaga proporsionalitas jumlah petugas laki-laki dan perempuan sesuai dengan jumlah jamaah laki-laki dan perempuan yang berangkat.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
