HARIAN.NEWS, GOWA – Air, bagi sebagian orang, hanyalah sesuatu yang lewat begitu saja. Dituang ke gelas, diminum, selesai. Ia bening, ia biasa, ia dianggap tidak punya cerita. Tetapi bagi saya, air adalah perjalanan panjang yang tidak pernah benar-benar selesai. Ia bukan sekedar unsur alam, melainkan semacam kitab diam yang saya baca sepanjang hidup. Halamannya terbuka dalam aliran, isinya saya pahami lewat pengalaman.
Saya mulai “membaca” air secara serius pada tahun 1994. Setahun setelah meninggalkan bangku kuliah di Universitas Hasanuddin, saya masuk ke dunia kerja dengan cara yang sederhana, tetapi ternyata menentukan arah hidup saya selanjutnya.
Saya bekerja dengan air. Bukan sebagai sesuatu yang diminum. Bukan sebagai sesuatu yang mengalir begitu saja. Tapi sebagai energi.
Baca Juga : Satu Tahun KME Gowa, Husniah Talenrang: Perubahan Harus Dirasakan Warga
Di PLTA Tanggari II, Minahasa, Sulawesi Utara, saya berkenalan dengan air dalam wujudnya yang paling “keras”. Bukan keras karena bentuknya, tetapi karena daya yang dikandungnya. Enam tahun saya di sana. Enam tahun mendengar gemuruh yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Di sana saya belajar satu hal yang tidak diajarkan secara utuh di bangku kuliah bahwa air yang tampak lembut itu sebenarnya menyimpan kekuatan yang luar biasa. Ia hanya membutuhkan satu hal untuk menunjukkan dirinya, yakni perbedaan.
Perbedaan ketinggian antara hulu dan hilir. Selisih elevasi yang bagi sebagian orang mungkin hanya angka di atas kertas, tetapi bagi kami adalah sumber tenaga.
Air yang jatuh tidak sekadar jatuh. Ia berakselerasi, menghantam, dipaksa masuk ke dalam sistem, memutar turbin, dan dari putaran itu lahirlah listrik—sesuatu yang kemudian dinikmati banyak orang tanpa pernah membayangkan dari mana ia berasal.
Baca Juga : Menepis Skeptisisme; DPR Hadir Memberi Keadilan Untuk Rakyat
Pada titik itulah saya benar-benar menyadari betapa istimewanya air sebagai energi. Di sungai, alirannya tidak dibiarkan liar. Ia dibendung dengan bendungan, ditahan sejenak seolah diajak bernegosiasi. Jalurnya diatur dengan presisi, diarahkan melalui saluran-saluran yang dibentuk dengan perhitungan matang. Bahkan tempat jatuhnya tidak dibiarkan alami. Ia dikonstruksi secara khusus agar menghasilkan daya maksimum. Air itu kemudian dipaksa menempuh perjalanan yang tidak pendek, melewati terowongan panjang sekitar tiga kilometer sebelum akhirnya dilepaskan dalam tekanan yang luar biasa untuk memutar turbin.
Di sana, saya melihat bagaimana manusia berusaha “berdialog” dengan air. Bukan hanya memanfaatkannya, tetapi juga memahami ritmenya. Kita tidak menciptakan energinya. Kita hanya menata jalannya.
Saya sering berdiri memandangi aliran itu, dan diam-diam bertanya bagaimana mungkin sesuatu yang begitu sederhana bisa melahirkan sesuatu yang begitu besar?
Di situlah saya mulai paham bahwa kekuatan tidak selalu datang dari sesuatu yang tampak hebat. Kadang ia datang dari sesuatu yang konsisten bergerak.
Baca Juga : Jusuf Kalla, “Siri’na Mangkasara”: Saat Lugas Menjadi Sikap dan Diam Bukan Pilihan
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
