Logo Harian.news

Air: Dari Energi Hingga Amanah 

Editor : Andi Awal Tjoheng Selasa, 05 Mei 2026 14:47
Mustamin Raga ||dok_mustamin raga
Mustamin Raga ||dok_mustamin raga

Tahun 2000 saya kembali ke Makassar. Saya kira hubungan saya dengan air dalam pekerjaan sudah cukup sampai di situ. Tapi rupanya air belum selesai “mengajar” saya. Tahun 2001, saya kembali dipanggil. Kali ini bukan untuk membangkitkan energi, tetapi untuk menghadapi dampak yang ditimbulkannya. Saya terlibat dalam proyek penanggulangan banjir di hilir Sungai Jeneberang Gowa Sulawesi Selatan.

Di sana, saya melihat wajah air yang sama sekali berbeda. Air yang dulu saya lihat sebagai pembawa cahaya, kini menjadi pembawa kecemasan. Ia meluap, keluar dari jalurnya, memasuki ruang-ruang yang tidak seharusnya ia masuki. Rumah-rumah terendam. Jalan-jalan lumpuh. Orang-orang panik. Air tidak lagi tunduk pada desain. Ia tidak lagi mengikuti perhitungan.
Dari situ saya belajar bahwa manusia bisa merancang, tetapi alam yang menentukan.
Kita bisa membuat saluran, tanggul, sistem pengendalian. Tapi begitu air memutuskan untuk melampaui batasnya, semua itu hanya menjadi upaya, bukan jaminan.

Tahun 2003, air kembali menunjukkan sisi lainnya. Kali ini ia hadir sebagai sahabat para petani. Saya dilibatkan dalam proyek irigasi yang bersumber dari Bendungan Bili-Bili.
Di sini, saya melihat air dalam bentuk yang paling “tenang”. Ia tidak lagi menghantam turbin, tidak lagi meluap dengan amarah. Ia mengalir pelan, menyusuri saluran-saluran irigasi, dari primer, sekunder, tersier sampai masuk ke petak-petak sawah, meresap ke tanah, dan menghidupkan sesuatu yang tidak bisa kita ciptakan sendiri yakni pertumbuhan.

Baca Juga : Satu Tahun KME Gowa, Husniah Talenrang: Perubahan Harus Dirasakan Warga

Kurang lebih empat tahun saya berada dalam fase ini. Saya menyaksikan bagaimana air menjadi denyut nadi bagi 24 ribu hektar sawah di Gowa, Takalar, dan Makassar. Dari sana saya belajar bahwa air bukan hanya tentang kekuatan dan ancaman, tetapi juga tentang kesabaran.
Ia tidak tergesa-gesa. Ia tidak menuntut perhatian. Tapi tanpa kehadirannya, kehidupan tidak berjalan.

Namun, pelajaran paling pahit datang pada tahun 2004. Runtuhnya dinding kaldera Gunung Bawakaraeng bukan sekedar peristiwa geologi. Ia adalah tragedi kemanusiaan. Air kembali hadir, tetapi bukan sebagai penyubur, bukan sebagai energi melainkan sebagai bagian dari rangkaian kehancuran. Erosi, gerusan, tekanan yang terus-menerus—hal-hal yang sering kita anggap kecil—ternyata mampu meruntuhkan sesuatu yang tampak kokoh. Dinding kaldera itu runtuh. Ratusan juta kubik material turun. Puluhan orang terhempas dan hilang. Ribuan hektar sawah tertimbun. Ternak lenyap.

Di sana, saya tidak lagi melihat air sebagai objek pekerjaan. Saya melihatnya sebagai pengingat. Bahwa alam bekerja dalam diam. Bahwa proses kecil yang berlangsung terus-menerus bisa berujung pada perubahan besar—bahkan kehancuran.

Baca Juga : Menepis Skeptisisme; DPR Hadir Memberi Keadilan Untuk Rakyat

Dari tragedi itu, dibangun sabo dam dan bendung konsolidasi di hulu Sungai Jeneberang. Puluhan jumlahnya. Upaya manusia untuk menahan, memperlambat, mengelola apa yang tidak bisa dihentikan sepenuhnya. Tapi di dalam hati, saya tahu kita tidak pernah benar-benar “menguasai” air. Kita hanya berusaha tidak dikalahkan olehnya.

Tahun 2010, perjalanan saya bersama air memasuki fase yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bersama Japan International Cooperation Agency (JICA), saya terlibat dalam pengembangan sistem air minum kawasan Mamminasata. Di sini, saya melihat air dari hulu ke hilir dalam arti yang sesungguhnya. Dari sumbernya, pengolahannya, distribusinya, hingga akhirnya sampai ke rumah-rumah warga.
Dan di titik ini saya memahami sesuatu yang sebelumnya mungkin saya abaikan bahwa air adalah hak. Ia bukan sekedar komoditas. Ia bukan sekedar proyek. Ia adalah kebutuhan dasar yang menentukan kualitas hidup manusia.

Air yang tidak sampai ke rumah seseorang bukan sekedar persoalan teknis. Ia adalah persoalan keadilan.

Baca Juga : Jusuf Kalla, “Siri’na Mangkasara”: Saat Lugas Menjadi Sikap dan Diam Bukan Pilihan

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]
Halaman
Penulis : MUSTAMIN RAGA (PEKERJA AIR)

Follow Social Media Kami

KomentarAnda