Ifa pun bergegas berlari keluar untuk meliput: mengambil gambar, video dan foto dari lantai dua. Namun, baru berselang sekitar 5 menit mengambil gambar, ia kembali mendengar keributan di dalam ruang sidang. Ada teriakan suara perempuan. Ia kembali berlari dan melihat Anjar ditarik keluar gedung.
Ia pun kembali meliput: mengangkat kamera dan merekam kejadian itu. Anjar dikepung oleh sekelompok orang di dalam ruangan paripurna, dan Ifa terus merekam kejadian itu.
Merasa kondisi aman, ia lantas mengajak Anjar keluar dari ruangan dan bergabung dengan kawan-kawannya yang masih berorasi di jalan.
Baca Juga : AJI Makassar–UNICEF Latih Jurnalis Perkuat Pemberitaan Akurat soal Imunisasi
Tak lama kemudian keributan kembali terjadi di ruang sidang. Ifa pun berusaha mendapatkan video amatir dari orang orang yang berada di ruang sidang. Karena posisi Ifa sudah berada di depan gudeng DPRD tempat demo berlangsung.
Setelah gambar dirasa cukup, ia segera membuat berita dan mengirimkannya ke medianya, Metro TV
Ifa kemudian berinisiatif mengunggah tulisan dan video di medsos pribadinya Facebook. Dan di kolom komentar ada teror dari akun bernama Choi-Choi yang dialamatkan ke Ifa, Anjar dan Nilam.
Baca Juga : Aksi Solidaritas Bela Tempo di Makassar Diwarnai Kericuhan
Di kolom komentar FB Ifa, Choi-Choi menulis: Kenapako filter komentar Dheevha takutko ketahuan settinganmu sama Anjar dgn Nilam.. nda lama saya kasih hilang ko bertiga.
Tidak hanya itu akun Choi-Choi pun kembali berkomentar di group FB dan menulis: Na sudah kau setting ini Baine Buntala, na bersamaan jako masuk, ndak lama ada kasi hilangko itu…
AJI Makassar menilai, kejadian ini sebagai pengingat bahwa jurnalis semakin rentan terhadap kekerasan. Serangkaian aksi kekerasan yang dialami jurnalis juga terjadi di sejumlah daerah lain di Indonesia beberapa tahun terakhir bahkan cenderung meningkat.
Baca Juga : Kebebasan Pers adalah Harga Mati
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
