Logo Harian.news

April 2026 Sekolah Daring, Program MBG Apakah Tetap Berjalan? Ini Skema Terbaru

Editor : Andi Awal Tjoheng Selasa, 24 Maret 2026 00:31
Sekolah daring berlaku April 2026 untuk hemat BBM. Bagaimana nasib Program MBG? || ilustrasi_nanobananaAI@harian.news
Sekolah daring berlaku April 2026 untuk hemat BBM. Bagaimana nasib Program MBG? || [email protected]

Pemerintah juga tengah mengkaji ulang pencairan subsidi kuota internet untuk mencegah beban ekonomi baru bagi orang tua.

MBG Ikut “Daring”? Ini Skema Distribusi Baru

Jika wacana ini terealisasi, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipastikan tidak berhenti. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menegaskan bahwa operasional lebih dari 25.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) akan kembali berjalan penuh pada Selasa, 31 Maret 2026, setelah libur Idulfitri.

Baca Juga : Prabowo: MBG dan Koperasi Desa Jadi Pilar Kebangkitan Ekonomi Rakyat

Pertanyaannya, bagaimana menyalurkan makanan jika siswa tak berada di kelas? BGN sedang merancang skema distribusi berbasis komunitas.

Presiden Prabowo Subianto melakukan sidak pelaksanaan makan bergizi gratis (MBG) di SD Negeri 05 Jati dan TK Negeri 02, Jakarta Timur, Senin (3/2/2025). (Dok. Sekretariat Presiden)

Alih-alih menyajikan di meja kelas, orang tua atau perwakilan RT dapat mengambil paket makanan bergizi di titik kumpul terdekat atau langsung di gerbang sekolah pada jam istirahat siang.

Baca Juga : BGN Tegaskan MBG Bukan Cuma Gizi, Tapi Penyelamat Petani

“Operasional dapur MBG akan kembali berjalan. Kami sedang mematangkan modifikasi rute distribusi agar nutrisi tetap sampai, meskipun pola belajarnya berubah,” ujar Dadan dalam keterangan resminya.

Risiko di Balik Efisiensi: Learning Loss dan Keamanan Pangan

Transisi mendadak ini tak lepas dari respons kritis. Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayanti, menyuarakan penolakan keras.

Baca Juga : BGN Klarifikasi Isu 19 Ribu Sapi per Hari

Menurutnya, berdasarkan evaluasi pasca-pandemi, PJJ terbukti memicu learning loss—penurunan kemampuan kognitif dan hilangnya budaya disiplin.

Sistem daring dinilai gagal membentuk aspek afektif seperti karakter dan sikap sosial anak yang hanya bisa dibangun melalui interaksi langsung di sekolah.

“Pembelajaran secara daring pernah kita laksanakan ketika terjadi wabah COVID-19. Dan kita semua tahu sistem tersebut meninggalkan problem yang tidak sederhana bagi dunia pendidikan kita,” kata Esti dalam keterangannya di Jakarta, Senin (23/3/2026), mengutip Kompas.TV

Baca Juga : Mentan Amran: 160 Juta Petani dan Peternak Suplai Program MBG

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]
Halaman
Penulis : ANDI AWAL TJOHENG

Follow Social Media Kami

KomentarAnda