Ia menilai, kemampuan kognitif pelajar semakin menurun pasca kebijakan pembelajaran daring. Hal itu terlihat dari beberapa hasil pemantauan tumbuh kembang anak di Indonesia.
Selain ketertinggalan dalam bidang akademis seperti learning loss yang dialami para siswa, menurut dia, sistem pembelajaran jarak jauh juga menimbulkan dampak pada aspek psikologis dan kesehatan fisik anak
“Sistem daring gagal membangun aspek afektif, karakter, dan sikap sosial anak,” tegasnya.
Baca Juga : Prabowo: MBG dan Koperasi Desa Jadi Pilar Kebangkitan Ekonomi Rakyat
Dari sektor pangan, perubahan titik konsumsi dari pantauan guru ke rumah menimbulkan risiko baru. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyoroti pentingnya menjaga rantai suhu makanan.
Jika makanan olahan SPPG yang tanpa pengawet dibiarkan terlalu lama di suhu ruang sebelum dikonsumsi, risiko kontaminasi bakteri dan keracunan pangan meningkat.
Oleh karena itu, pengawasan ketat terhadap SOP pengepakan menggunakan wadah higienis dan kedap udara menjadi fokus utama kolaborasi BGN dan BPOM menjelang April.
Baca Juga : BGN Tegaskan MBG Bukan Cuma Gizi, Tapi Penyelamat Petani
Tips untuk Orang Tua: Menyiasati Sekolah dari Rumah dan MBG Take Away
Menghadapi potensi kebijakan ini, orang tua perlu melakukan penyesuaian. Berikut tips praktis:
1. Sinkronisasi Jadwal: Jika Anda terdampak kebijakan WFA, buat jadwal terstruktur di rumah. Tetapkan area khusus sebagai “zona kerja dan belajar” untuk meminimalisir distraksi.
Baca Juga : BGN Klarifikasi Isu 19 Ribu Sapi per Hari
2. Pantau Titik Ambil MBG: Segera koordinasikan dengan wali kelas atau pengurus RT untuk mengetahui lokasi pengambilan paket MBG terdekat.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
