Kebijakan di atas sejalan dengan kondisi riil di lapangan. Mustari, perwakilan petani dari Kecamatan Bajeng, mengakui bahwa saat ini kondisi sawah di wilayahnya masih mendukung aktivitas pertanian hingga tiga kali musim tanam dalam setahun.
Namun, mengacu pada informasi dari pemerintah, para petani kini mulai mengonsolidasikan infrastruktur lokal. “Kami sudah siapkan pompanisasi dengan sumur di setiap blok sawah. Yang penting informasi (dari pemerintah) sampai ke petani, kami siap beradaptasi,” ungkap Mustari.
Baca Juga : Bupati Gowa Keluar dari Sidang Hak Angket Setelah Permintaan Ditolak Pansus
Sinergi tidak hanya terjalin antara pemerintah dan petani, tetapi juga industri penunjang. Turut hadir sebagai narasumber, Manager Sulsel 2 dan Sulbar PT Pupuk Indonesia, Muhammad Hidayat Syam, memastikan ketersediaan pupuk berjalan lancar untuk mendukung percepatan tanam yang diinstruksikan oleh Pemkab Gowa.
Melalui pendekatan bottom-up dan top-down ini, Gowa membuktikan bahwa ketahanan pangan bukan sekadar wacana, melainkan sebuah kerja keras terstruktur yang dimulai jauh sebelum krisis terjadi. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
