Logo Harian.news

Efisiensi Anggaran: Hemat atau Mengurangi Hak Pelayanan Masyarakat?

Editor : Redaksi II Jumat, 05 Juni 2026 20:07
Dok: Sutrisman Basir - Dosen FIS-H UNM
Dok: Sutrisman Basir - Dosen FIS-H UNM

Bagaimana kita mendudukkan kembali efisiensi anggaran agar tidak mencederai pelayanan publik? Menghadapi kompleksitas ini, pemikiran para pakar kebijakan publik menjadi sangat relevan sebagai jalan keluar:

  • Desain Kebijakan yang Selektif (Howlett & Mukherjee): Efisiensi anggaran tidak boleh dipukul rata dengan metode flat-cut (pemotongan merata). Kebijakan harus dirancang secara selektif berbasis jenis jabatan dan karakteristik fungsi pelayanan. Sektor pelayanan dasar yang bersentuhan langsung dengan masyarakat (seperti kesehatan, pendidikan, dan perizinan dasar) tidak boleh dikorbankan demi target efisiensi.
  • Kapasitas Pelaksana dan Koordinasi (Pressman & Wildavsky): Penghematan biaya operasional harus dibarengi dengan kejelasan prosedur dan kapasitas pelaksana yang matang. Jangan sampai pengurangan fasilitas kantor mengganggu koordinasi antar-unit yang akhirnya menghambat penyelesaian urusan publik.
  • Evaluasi Berbasis Dampak (William Dunn): Pemerintah tidak boleh hanya mengevaluasi “berapa banyak uang yang berhasil dihemat”. Merujuk pada Dunn, analisis dan evaluasi kebijakan harus berbasis pada dampak nyata di masyarakat. Indikator kepuasan publik dan kecepatan layanan wajib dijadikan variabel utama untuk menilai apakah sebuah efisiensi anggaran itu berhasil atau justru gagal.

Efisiensi anggaran adalah keharusan di tengah dinamika ekonomi global, namun ia bukanlah tujuan akhir dari tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Tujuan utama birokrasi adalah melayani publik, bukan sekadar menumpuk sisa anggaran.

Baca Juga : Bupati Sinjai Terima Pengaduan Warga Pakokko Soal Jalan Rusak

Keberhasilan reformasi birokrasi tidak boleh diukur secara sempit dari seberapa drastis anggaran operasional dipotong. Penghematan yang sejati adalah ketika anggaran ditekan, namun kualitas layanan publik tetap tegak, responsif, dan akuntabel.

Menjaga keseimbangan antara akuntabilitas fiskal negara dan hak-hak pelayanan masyarakat adalah ujian integritas terbesar bagi birokrasi modern saat ini.

Jangan sampai di balik angka penghematan yang dipuji-puji, ada hak-hak masyarakat yang diam-diam sedang dipangkas.

Baca Juga : Wabup Sinjai Kritik Kebijakan Efisiensi Presiden, Dinilai “Mencekik” Daerah

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]
Halaman
Penulis : Dr. Sutrisman Basir, S.Sos., M.I.Kom (Dosen FIS-H Universitas Negeri Makassar)

Follow Social Media Kami

KomentarAnda