“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah kami.”
Konsep al-‘afwu atau pemaafan menjadi pelajaran penting di bulan Ramadan. Allah mencintai hamba-Nya yang pemaaf, tetapi kenyataannya memaafkan bukanlah hal mudah—terutama terhadap kesalahan besar seperti korupsi dan pengkhianatan rakyat.
Baca Juga : Unismuh Makassar Apresiasi Pemenang Lomba Video Ramadan, Ini Daftar Juara
“Dalam kehidupan sosial, kita sering dihadapkan pada pilihan: membalas dengan keburukan atau menyikapinya dengan kelembutan. Ramadan mengajarkan kita untuk memilih jalan kedua, karena Allah berfirman bahwa kebaikan akan menghapus keburukan,” tambah Ustaz Andy Satria.
Ramadan: Karantina Hawa Nafsu, Latihan Pengendalian Diri
Jika di dunia kerja ada training untuk meningkatkan keterampilan, maka Ramadan bisa disebut sebagai training bagi jiwa.
Baca Juga : Sepuluh Malam Terakhir Ramadan, FK UMI Gelar I’tikaf Bersama di Masjid Menara UMI
Selama sebulan penuh, hawa nafsu “dikarantina” agar setelah Ramadan berakhir, seseorang bisa keluar sebagai pribadi yang lebih sabar, ikhlas, dan bertakwa.
Puasa bukanlah tujuan akhir, tetapi jembatan menuju ketakwaan. Harapannya, setelah Ramadan usai, umat Islam tetap mampu menjaga kualitas ibadah dan akhlaknya.
Sebab, kemenangan sejati bukan hanya merayakan Idul Fitri, tetapi bagaimana seseorang bisa mempertahankan kebiasaan baik yang sudah dibangun selama Ramadan.
Baca Juga : PCNA Minasa Upa Gelar Pengajian dan Buka Puasa Bersama, Usung Semangat “Muslimah Berdaya”
Wallahu a’lam bish shawab.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

