“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah kami.”
Konsep al-‘afwu atau pemaafan menjadi pelajaran penting di bulan Ramadan. Allah mencintai hamba-Nya yang pemaaf, tetapi kenyataannya memaafkan bukanlah hal mudah—terutama terhadap kesalahan besar seperti korupsi dan pengkhianatan rakyat.
“Dalam kehidupan sosial, kita sering dihadapkan pada pilihan: membalas dengan keburukan atau menyikapinya dengan kelembutan. Ramadan mengajarkan kita untuk memilih jalan kedua, karena Allah berfirman bahwa kebaikan akan menghapus keburukan,” tambah Ustaz Andy Satria.
Baca Juga : PHI Hadirkan Promo Wedding, Room, dan Ramadan Spesial di HoRe Expo PHRI 2026
Ramadan: Karantina Hawa Nafsu, Latihan Pengendalian Diri
Jika di dunia kerja ada training untuk meningkatkan keterampilan, maka Ramadan bisa disebut sebagai training bagi jiwa.
Selama sebulan penuh, hawa nafsu “dikarantina” agar setelah Ramadan berakhir, seseorang bisa keluar sebagai pribadi yang lebih sabar, ikhlas, dan bertakwa.
Baca Juga : Momen Silaturahmi Idulfitri, IPPK Prov Sulsel Gelar Halal Bihalal
Puasa bukanlah tujuan akhir, tetapi jembatan menuju ketakwaan. Harapannya, setelah Ramadan usai, umat Islam tetap mampu menjaga kualitas ibadah dan akhlaknya.
Sebab, kemenangan sejati bukan hanya merayakan Idul Fitri, tetapi bagaimana seseorang bisa mempertahankan kebiasaan baik yang sudah dibangun selama Ramadan.
Wallahu a’lam bish shawab.
Baca Juga : Puasa Sunah Syawal bagi Istri: Harus Izin Suami, Kenapa?
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
