HARIAN.NEWS, SERANG – Masih banyak pengangguran di Indonesia? Salah satu biang keroknya adalah kesenjangan kompetensi. Dunia usaha butuh skill A, tapi pencari kerja punya skill B.
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli punya jawaban tegas: Pelatihan vokasi.
Baca Juga : Menaker Yassierli Bawa Aspirasi RI ke ILC ke-114 Jenewa
“Di antara tantangan kita saat ini adalah masih terdapat kesenjangan antara kompetensi pencari kerja dan kebutuhan industri. Hal ini perlu dijembatani melalui pelatihan vokasi yang berkualitas,” ujar Yassierli.
Pernyataan ini disampaikan saat meninjau Pelatihan Vokasi Nasional (PVN) Batch I Tahun 2026 di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Serang, Banten, Rabu (29/4/2026).
Bukan Sekadar Pelatihan Biasa
Baca Juga : Pelatihan Vokasi Nasional Batch 2 Resmi Dibuka, Kemnaker Siapkan 24 Kejuruan dan Sertifikat BNSP
Yang membedakan pelatihan vokasi Kemnaker dengan kursus biasa adalah prinsip link and match. Artinya, materi yang diajarkan harus persis seperti yang dibutuhkan industri saat ini. Bukan sekadar teori usang.
Menaker meminta para instruktur untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran. Tujuannya satu: memastikan peserta memiliki keterampilan yang benar-benar siap pakai di dunia kerja.
Bukti Nyata: 82 Persen Langsung Kerja!
Baca Juga : 319.224 Klaim Kecelakaan Kerja 2025, Menaker: BPJS Harus Jadi Motor K3
Hasilnya tidak main-main. Sepanjang tahun 2025, serapan kebekerjaan lulusan vokasi di BBPVP Serang mencapai 82 persen.
Angka ini menunjukkan bahwa pelatihan yang dilaksanakan sudah on the track. Menaker berharap capaian ini tidak hanya dipertahankan, tapi ditingkatkan.
“Alumni pelatihan di balai-balai Kemnaker harus semakin mampu memenuhi kebutuhan industri,” tegasnya.
Baca Juga : Keseimbangan Produktivitas dan Hak Pekerja: Komitmen Terbaru Kemnaker
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
