Logo Harian.news

Saat Mimbar Dijual Mahal dan Perempuan Dihina Murah

Editor : Andi Awal Tjoheng Jumat, 23 Oktober 2026 08:50
Ilustrasi mimbar dakwah. Etika, integritas, dan tanggung jawab moral menjadi bagian penting dalam menyampaikan pesan keagamaan ||(Kredit foto:AI@harian.news)
Ilustrasi mimbar dakwah. Etika, integritas, dan tanggung jawab moral menjadi bagian penting dalam menyampaikan pesan keagamaan ||(Kredit foto:AI@harian.news)

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Ada dua hal yang membuat umat muak dengan penceramah ini. Pertama, ketika agama dijual terlalu mahal. Kedua, ketika perempuan dihina terlalu murah. Dan kedua hal itu kini bertemu dalam satu kalimat tertuju pada Habib Alwi bin Abdurahman Assegaf.

Keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang melarang Habib Alwi berceramah adalah keputusan yang terlambat, tapi tetap harus diapresiasi. Selama ini ia memang sudah disorot karena ceramahnya yang dinilai kerap memelesetkan akidah yang lurus. Umat banyak yang diam karena sungkan pada gelar habib yang disandangnya.

Baca Juga : Perempuan itu Akhirnya Ditumbangkan

Namun kali ini kesabaran itu runtuh. Bukan hanya karena ia dikabarkan mematok tarif ceramah premium hingga Rp 75 juta sekali tampil, belum termasuk mamin, transport dan akomodasi mewah. Dakwah rasa konser, mimbar rasa panggung artis.

Yang membuat dahi berkernyit adalah isi ceramahnya sendiri.

Dalam potongan video yang kini beredar luas – dan video tersebut asli, bukan editan, bukan potongan yang dipelintir, dan bukan buatan AI – terlihat jelas ia dengan enteng meminta santriwati digiring ke hadapannya. Di atas mimbar, di depan jamaah, ia bercanda ingin mencari istri keempat yang muda dan enak dipandang. Gelak tawa pecah, seolah itu lucu.

Baca Juga : Ketika yang Diulang Dianggap Benar dalam Kekuasaan, Algoritma, dan Perang Persepsi

Belum selesai, ia melanjutkan dengan kalimat yang menusuk, perempuan yang sudah berusia 60 tahun ke atas tidak mendatangkan pahala, hanya mengotori mata.

Kalimat itu bukan sekadar candaan yang kepleset. Itu adalah cerminan isi kepala. Bagaimana mungkin seorang yang mengaku pewaris dakwah Nabi, yang mengaku alim ulama, bisa merendahkan ibu-ibu kita sedemikian rupa?

Ibu-ibu usia 60 tahun ke atas yang ia hina itulah yang setiap subuh mendinginkan sajadah dengan air wudhu. Mereka yang menghabiskan sisa hidupnya untuk mengaji, menjaga cucu, dan mendoakan anak-anaknya. Mereka bukan pengotor mata, mereka adalah penjaga pahala bagi keluarga.

Baca Juga : Pajak Dibayar, Rakyat Menunggu Jawaban

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi@harian.news
Halaman
Penulis : IGA KUMARIMURTI DIWIA (PEMRED HARIAN.NEWS)

Follow Social Media Kami

KomentarAnda