HARIAN.NEWS, MAKASSAR — Hidup di zaman algoritma, membutuhkan mental cadangan, harus siap dihina, direndahkan dan dicacimaki.
Penulis dituntut dalam menuangkan pemikiran harus berseni, bernyawa, menyanyi, menari dan terkadang muncul dalam perwujudan AI.
Baca Juga : Polemik Haji 2026 : Kebijakan Ada Tapi Ketenangan Jemaah Masih Dipertanyakan
Sebuah bentuk perlawanan agar mereka tertarik menghabiskan waktunya untuk melahap bacaan-bacaan minimal 20-30 menit.
Pewarta wajib memiliki jiwa seni dalam mengolah kalimat sehingga makian terdengar lebih easy going mengalir apa adanya dan menjadi manfaat yang menguatkan. Bukan tentang siapa yang paling genius namun siapa paling tahan di buli. Disitulah revolusi menulis lahir.
Di era digital bukan lagi persoalan isi, tapi Vibes (energi). Tidak cukup melalui perkisahan, harus disertai interaksi langsung, sehingga tidak memerlukan waktu lama mendapat konfirmasi.
Baca Juga : Swasembada untuk Siapa? Ketika Petani Batang Jeneponto Gagal Panen karena Kekeringan
Seperti kisah heroik yang dilakukan Agam Rinjani mengangkat jenazah seorang warga negara Brazil di Gunung Rinjani Lombok pada ketinggian 600 m, akhir Juni 2025 lalu.
Di medsos bagaimana cacian para netizen dan juga pihak negara lain merendahkan kualitas pemerintah dan masyarakat dalam penanganan kemanusiaan, tidak gercep (gerak cepat).
Durasi terlalu lama. Kalimat-kalimat yang dilontarkan terkesan menghakimi dan merendahkan, tidak memberi ruang, dengan enteng mereka katakan tim keselamatan seolah sengaja mengulur waktu, tidak ada koordinasi dsb.
Baca Juga : Jangan Tunggu Anak Siap, Sistemnya yang Harus Siap
Seiring memanasnya komentar buruk, beberapa pihak yang peduli dan lebih tau tentang keadaan di lapangan angkat bicara saling menimpali, sembari memberikan gambaran bagaimana situasi yang sebenarnya mengenai karakteristik alam disana saat dipantau menggunakan drone.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

