HARIAN.NEWS, MAKKAH – Langkah-langkah terasa berat. Putaran terakhir di hadapan Ka’bah bukan sekadar gerakan, melainkan detik-detik penuh haru dari sebuah perpisahan yang tak pernah diinginkan.
Inilah Tawaf Wada—tawaf perpisahan, saat ruh terasa enggan meninggalkan rumah-Nya.
Setiap inci marmer yang disentuh menjadi saksi bisu atas doa-doa yang tumpah, air mata yang jatuh, dan cinta yang tak ingin berakhir. Di bawah langit Makkah yang agung, seluruh alam seakan turut menyimak bisikan lirih hati yang merintih:
“Jangan akhiri ini terlalu cepat…”
Baca Juga : Mengupas Gaya Kepemimpinan Andi Amran Sulaiman
Bukan tubuh yang lelah, melainkan jiwa yang tak rela berpisah. Bukan kaki yang berat melangkah, tetapi hati yang ingin tetap tinggal di pelataran suci.
Di sana, rasa paling dekat dengan Allah terasa begitu nyata. Di sana, segalanya menjadi ringan—dosa luruh, harapan hidup kembali, dan cinta Ilahi terasa amat dekat.
Namun di balik keagungan spiritual tawaf, tersimpan pula anugerah luar biasa bagi kesehatan sebuah harmoni Ilahi antara ruh dan raga.
Baca Juga : Quantum Leap Makassar 2040: Dari Gerbang Menjadi Destinasi Kota Berkelas Dunia
Gerakan memutar yang ritmis selama tawaf membantu melancarkan aliran darah, menstimulasi kerja jantung, dan menjaga kesehatan kardiovaskular secara alami.
Saat melangkah di tengah kepadatan sambil menjaga fokus spiritual, sistem saraf dilatih untuk tetap tenang, menyeimbangkan tubuh dan kesadaran, serta meningkatkan ketangguhan sensorik.
Irama langkah dan lantunan dzikir menciptakan efek seperti meditasi aktif. Hormon stres menurun, digantikan oleh hormon bahagia seperti endorfin dan serotonin, yang membuat pikiran lebih damai dan tubuh lebih relaks.
Baca Juga : KORMI Memaknai Kota Mulia
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
