Ketika Gambar Tidak Lagi Jujur, dan Manusia Menjadi Korbannya
HARIAN.NEWS,GOWA – Di era post-modern saat ini, kebenaran tidak lagi selalu lahir dari kenyataan. Ia bisa diproduksi. Diracik seperti minuman instan yang tinggal diaduk, lalu disajikan kepada publik yang haus sensasi. Dan anehnya, semakin pahit sebuah kebohongan, semakin banyak yang berminat meminumnya tanpa bertanya.
Baca Juga : Pemerintah Kabupaten Gowa Jangan Hanya Menjadi Penonton dalam Pengawasan SPPG
Sebuah wajah, yang seharusnya jujur memantulkan hidup, kini dapat dipinjam tanpa izin, dibengkokkan tanpa rasa bersalah, lalu dilepaskan ke ruang publik seolah-olah ia memang dilahirkan untuk dipermainkan. Kita tidak lagi hidup di zaman di mana foto adalah bukti. Kita hidup di zaman di mana foto bisa menjadi alat kejahatan yang paling berbahaya.
Ia tidak berteriak. Tidak memukul. Tidak mengancam secara langsung. Tetapi sekali ia menyebar, ia akan bekerja seperti racun yang tidak terlihat, merayap ke kesadaran publik, dan perlahan membunuh reputasi seseorang tanpa perlu menyentuh tubuhnya.
Dulu, foto adalah saksi yang setia. Ia hadir bukan untuk berdebat, tetapi untuk menunjukkan. Ia adalah bentuk kecil dari keabadian. Sebuah cara manusia mencuri waktu agar tidak sepenuhnya hilang. Dalam Camera Lucida, foto disebut sebagai “that-has-been”, yakni sesuatu yang benar-benar pernah terjadi.
Baca Juga : EL Nino Menyapa ? Sudah Siapkah Indonesia
Ada kejujuran di sana. Ada kesepakatan diam antara realitas dan gambar. Namun hari ini, kesepakatan itu telah dilanggar. Foto tidak lagi harus jujur. Ia cukup terlihat meyakinkan. Dan di sinilah tragedi itu dimulai.
Bayangkan seseorang mengambil wajah Anda. Wajah yang Anda rawat dengan identitas, pengalaman, dan harga diri. Lalu ia tempelkan pada tubuh yang tidak pernah Anda miliki. Ia letakkan Anda dalam situasi yang tidak pernah Anda jalani. Ia ciptakan cerita yang tidak pernah Anda alami. Kemudian tanpa izin, tanpa rasa bersalah,ia sebarkan itu ke dunia.
Dalam hitungan detik, Anda bukan lagi diri Anda. Anda adalah versi palsu dari diri Anda yang dipercaya oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenal Anda. Dan lebih kejam lagi, Anda dipaksa untuk membela diri atas sesuatu yang tidak pernah Anda lakukan. Bukankah ini bentuk kekerasan yang paling licik?
Baca Juga : Pesta Babi, Ruang Sipil, dan Cara Baru Kekuasaan Membentuk Kesadaran
Kekerasan ini tidak menggunakan tangan. Ia menggunakan persepsi. Ia tidak membutuhkan senjata. Ia hanya membutuhkan imajinasi yang kehilangan moral. Dan di era digital, imajinasi seperti ini tumbuh subur. Karena ia diberi panggung, diberi algoritma, diberi penonton yang seringkali lebih suka percaya daripada berpikir.
Dalam dunia teori, Jean Baudrillard pernah mengingatkan tentang bahaya simulacra yakni ketika tiruan tidak lagi meniru realitas, tetapi justru menggantikannya. Kita tidak lagi hidup dalam realitas. Kita hidup dalam representasi yang dianggap realitas. Foto palsu tidak lagi sekadar kebohongan. Ia menjadi “kebenaran baru” karena cukup banyak orang mempercayainya. Dan di situlah manusia mulai kehilangan pijakan.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
