Hari Janda Internasional 23 Juni: Mengapa PBB Turun Tangan?
HARIAN.NEWS, JAKARTA — Setiap tanggal 23 Juni, dunia memperingati Hari Janda Internasional (International Widows’ Day). Bukan sekadar kalender simbolis, peringatan resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini menjadi alarm genting atas realitas kelam yang masih menghantui jutaan perempuan pasca ditinggal suami.
Baca Juga : Hari Olimpiade Internasional: Sejarah dan Makna Di Balik 23 Juni
Mengapa harus ada hari khusus? Data global menunjukkan, kematian suami bagi sebagian besar perempuan di negara berkembang bukan hanya berarti kehilangan belahan jiwa, tetapi juga awal dari runtuhnya status sosial dan ekonomi.
Banyak janda menghadapi diskriminasi sistemik yang mematikan: diusir dari rumah sendiri, dicabut hak waris atas tanah, dikucilkan dari komunitas, hingga kehilangan akses terhadap anak kandungnya.
Tanpa jaring pengaman sosial dan lapangan pekerjaan formal, kelompok ini terjerumus cepat ke dalam lubang kemiskinan ekstrem dan rentan eksploitasi.
Baca Juga : Hari Olimpiade Internasional: Sejarah dan Makna Di Balik 23 Juni
Latar Belakang Sejarah yang Menggugah
Tahukah Anda, momentum global ini berawal dari sebuah air mata di India? Hari Janda Internasional pertama kali diinisiasi oleh Loomba Foundation pada 2005.
Pemilihan angka 23 Juni bukan tanpa alasan. Tanggal ini memiliki nilai historis emosional untuk mengenang Shrimati Pushpa Wati Loomba—ibunda dari pendiri yayasan—yang menjadi janda tepat pada 23 Juni 1954.
Baca Juga : Laki-Laki Hebat? Jangan Lupa yang di Balik Layar!
Di tengah masyarakat yang kaku oleh stigma, Pushpa harus berjuang sendirian membesarkan anak-anaknya. Kisah pahitnya kemudian menjadi cermin penderitaan jutaan janda lain di penjuru dunia.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
