HARIAN.NEWS, BUSHEHR – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr dibom empat kali oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel sejak perang pecah pada 28 Februari 2026.
Ia lalu mengkritik kurangnya perhatian terhadap keselamatan fasilitas nuklir tersebut.
Baca Juga : Iran Ancam Tutup Lagi Selat Hormuz jika Blokade Laut AS Terus Berlanjut
Serangan ini terjadi di tengah peningkatan intensitas penargetan terhadap situs industri Iran oleh AS dan Israel.
Satu orang dilaporkan tewas akibat pecahan proyektil dalam serangan ini.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan, tidak ditemukan peningkatan tingkat radiasi pasca-serangan, berdasarkan konfirmasi dari otoritas Iran dalam pernyataan resmi pada Sabtu (4/4/2026).
Baca Juga : Kesehatan Mojtaba Khamenei Dikabarkan Kritis, Iran Dihantui Ketidakpastian
“Tidak ada peningkatan tingkat radiasi,” demikian pernyataan IAEA, dikutip dari Al Jazeera.
Para ahli sebelumnya telah memperingatkan tingginya risiko jika fasilitas nuklir atau petrokimia menjadi sasaran.
Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi menyampaikan kekhawatiran mendalam atas insiden tersebut. Ia menegaskan bahwa lokasi nuklir dan area di sekitarnya tidak boleh menjadi target serangan.
Baca Juga : Krisis Global Mengintai, WFP Sebut 45 Juta Orang Terancam Kelaparan, Indonesia Surplus Beras
“(Menyatakan) keprihatinan mendalam tentang insiden yang dilaporkan, dan mengatakan situs (nuklir) atau daerah terdekat tidak boleh diserang, menekankan bahwa bangunan tambahan di lokasi tersebut mungkin berisi peralatan keselamatan vital,” demikian pernyataan IAEA.
Grossi juga menyerukan pengekangan militer untuk mencegah risiko kecelakaan nuklir.
Kerusakan dan evakuasi
Baca Juga : Jusuf Kalla Angkat Suara soal Pertamina Pride dan Gamsunori yang Tertahan di Selat Hormuz
Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) mengonfirmasi adanya kerusakan pada bangunan tambahan di lokasi tersebut.
Bagian utama pembangkit listrik dilaporkan tidak terdampak oleh serangan. Korban tewas merupakan anggota personel keamanan yang bertugas di area tersebut.
Di sisi lain, perusahaan nuklir negara Rusia, Rosatom, mengevakuasi ratusan staf dari lokasi Bushehr.
Sebanyak 198 staf Rusia dievakuasi dalam gelombang terbesar pada Sabtu.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
