Namun, kisah Kampili tetap menyisakan pertanyaan yang layak direnungkan.
Apakah kehadiran sebuah institusi besar cukup diukur dari bangunan fisiknya?
Baca Juga : Ingin Kuliah Gratis IPDN dan Bisa Jadi CPNS Kemendagri? Berikut Syarat Lengkapnya!
Ataukah ia juga harus diukur dari kemampuannya menumbuhkan inspirasi, membuka akses, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkungan yang menjadi tuan rumahnya?
Sebab pembangunan sejatinya bukan sekadar mendirikan gedung. Pembangunan juga berarti menghadirkan harapan yang dapat diraih, bukan harapan yang hanya bisa dipandang dari balik pagar.
Mungkin, seandainya hari ini kita dapat berbincang dengan Pak Syahrul Yasin Limpo, kita ingin bertanya dengan penuh hormat:
Baca Juga : Ketika Listrik Wujudkan Impian Para Petani di Ladang Kampili
“Pak, ketika dahulu Bapak begitu gigih memperjuangkan agar IPDN berdiri di Gowa, apakah Bapak membayangkan akan lahir banyak pamong pemerintahan dari tanah ini? Apakah Bapak berharap anak-anak Kampili suatu saat dapat berjalan memasuki gerbang kampus itu sebagai praja, bukan sekadar menjadi penonton yang tinggal di sekitarnya? Ataukah perjuangan itu memang semata-mata untuk membantu pemerintah pusat menyediakan lokasi pendidikan saja?”
Pertanyaan itu mungkin tidak akan pernah memperoleh jawaban yang benar-benar utuh.
Namun, satu hal pasti: kehadiran sebuah kampus besar selalu melahirkan harapan. Dan harapan yang terlalu lama tidak menemukan kenyataan, lambat laun akan berubah menjadi pertanyaan.
Mengapa kampus itu berdiri di halaman rumah mereka, tetapi mimpinya tak pernah singgah di rumah-rumah anak Kampili?
Wallahu a’lam.
_Kantor Desa Kampili, 18 Juni 2026_
Baca Juga : Petani di Kampili Apresiasi Bantuan Program Irigasi dari Hamka B Kady
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
