Logo Harian.news

Kampus Berdiri di Desa Kampili, Tetapi Mimpi di Tempat Lain

Editor : Andi Awal Tjoheng Kamis, 18 Juni 2026 18:39
Kampus IPDN Gowa di Desa Kampili. (doc_mustaminraga)
Kampus IPDN Gowa di Desa Kampili. (doc_mustaminraga)

Sejak kampus tersebut berdiri pada tahun 2011, selama lima belas tahun masyarakat Kampili menyaksikan ribuan praja datang dan pergi. Mereka melihat gedung-gedung kampus berdiri megah di depan mata. Mereka menyaksikan berbagai kegiatan kedinasan berlangsung di lingkungan mereka sendiri. Namun, mereka belum pernah melihat seorang pun anak desa mereka mengenakan seragam praja dan melangkah masuk melalui gerbang kampus itu sebagai mahasiswa.

Mereka begitu dekat dengan kampus itu secara jarak, tetapi begitu jauh secara kesempatan.

Baca Juga : Ingin Kuliah Gratis IPDN dan Bisa Jadi CPNS Kemendagri? Berikut Syarat Lengkapnya!

Kedekatan fisik ternyata tidak otomatis melahirkan kedekatan akses.

Menurut Sekdes Kampili, pada tahun-tahun awal berdirinya kampus, banyak warga mendaftarkan anak-anak mereka dengan penuh harapan. Ada mimpi yang tumbuh di rumah-rumah sederhana. Ada orang tua yang membayangkan suatu hari nanti anaknya menjadi camat, lurah, sekretaris daerah, atau pejabat pemerintahan yang lahir dari Kampili dan dididik di kampus yang berdiri di desanya sendiri.

Tetapi tahun demi tahun berlalu.

Baca Juga : Ketika Listrik Wujudkan Impian Para Petani di Ladang Kampili

Tak seorang pun berhasil lolos.

Harapan yang berkali-kali kandas akhirnya berubah menjadi keputusasaan. Orang tua mulai berhenti mendorong anak-anak mereka untuk mendaftar. Anak-anak muda tidak lagi menjadikan IPDN sebagai cita-cita. Nama kampus itu perlahan kehilangan daya magisnya.

Bagi sebagian warga, kampus tersebut akhirnya dipandang hanya sebagai sebuah bangunan yang kebetulan berada di Kampili.

Baca Juga : Kolaborasi dalam Semangat Kemerdekaan: Pemerintah, Civitas IPDN dan Masyarakat Desa Kampili Gelar Aksi Jalan Sehat

Ada, tetapi terasa tidak hadir.

Dekat, tetapi tidak menyentuh.

Berdiri di tengah desa, tetapi manfaatnya bagi pengembangan sumber daya manusia setempat terasa seperti mimpi di siang hari.

Baca Juga : Petani di Kampili Apresiasi Bantuan Program Irigasi dari Hamka B Kady

Tentu, keadaan ini tidak boleh serta-merta dipahami sebagai kegagalan IPDN. Sistem penerimaan di lembaga kedinasan memang memiliki standar tertentu dan menjunjung prinsip merit serta persaingan nasional. Tidak ada jaminan bahwa daerah yang menjadi lokasi kampus otomatis akan memperoleh kuota mahasiswa dari wilayah tersebut.

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]
Halaman
Penulis : YUSRIZAL KAMARUDDIN

Follow Social Media Kami

KomentarAnda