Pada 2024 lalu, tambang Liushenyu bahkan sudah masuk dalam daftar nasional tambang rawan bencana karena tingginya risiko kandungan gas berbahaya di area pertambangan.
Administrasi Keselamatan Tambang Nasional China sebelumnya juga telah memberikan sejumlah peringatan terkait potensi ledakan gas di lokasi tersebut.
Baca Juga : Prabowo Tetap Terbang ke China saat Demo Masih Marak
Tak hanya itu, perusahaan pengelola dilaporkan baru menerima dua sanksi administratif sepanjang 2025 akibat pelanggaran standar keselamatan operasional.
Jadi Bencana Tambang Terburuk Sejak 2009
Insiden di Liushenyu disebut menjadi salah satu tragedi pertambangan paling mematikan di China sejak ledakan tambang di Heilongjiang pada 2009 silam.
Baca Juga : Perubahan Moral dan Hukum di Era Xi Jinping, Pakaian dan Bicara di Tiongkok di Bawah Sorotan
Provinsi Shanxi sendiri merupakan pusat produksi batu bara terbesar di China dan menyumbang hampir sepertiga pasokan batu bara nasional.
Meski China terus meningkatkan standar keselamatan kerja di sektor pertambangan, kecelakaan tambang masih kerap terjadi akibat tingginya aktivitas produksi dan lemahnya pengawasan di sejumlah wilayah.
Tragedi ini kembali memicu sorotan publik terhadap sistem keselamatan kerja di industri tambang China yang selama ini sering dikritik karena dianggap belum sepenuhnya aman bagi para pekerja. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
