HARIAN.NEWS, JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perkembangan positif pengendalian harga pangan di sejumlah wilayah terdampak bencana hidrometeorologi.
Tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, mengalami deflasi pada Januari 2026 setelah sebelumnya mencatat inflasi cukup tinggi pada Desember 2025.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono menjelaskan bahwa ketiga provinsi tersebut menunjukkan tren penurunan harga secara month to month pada awal 2026.
Baca Juga : BPS Rilis Angka Tetap Produksi Beras 2025 Capai 34,69 Juta Ton, Naik 13,29 Persen
“Khusus inflasi pascabencana pada tiga provinsi yang terkena bencana hidrometeorologi, Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mengalami deflasi di awal tahun 2026 setelah sebelumnya di Desember 2025 mengalami inflasi cukup tinggi,” kata Ateng dalam Rilis BPS, Senin (2/2/2026).
Secara rinci, Aceh pada Desember 2025 mengalami inflasi sebesar 3,60 persen namun berbalik menjadi deflasi 0,15 persen pada Januari 2026. Sumatera Utara yang sebelumnya mencatat inflasi 1,66 persen pada Desember, mengalami deflasi 0,75 persen pada Januari. Sementara itu, Sumatera Barat dari inflasi 1,48 persen pada Desember 2025, turun menjadi deflasi 1,15 persen pada Januari 2026.
Menurut Ateng, kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang deflasi terbesar di ketiga provinsi tersebut. Hal ini mencerminkan terjaganya pasokan pangan pokok di tengah proses pemulihan pascabencana, sehingga tekanan harga pada komoditas pangan utama dapat ditekan.
Baca Juga : Mentan Amran Tegaskan Pers Sebagai Pilar Demokrasi Sekaligus Mitra Swasembada Pangan
“Pada periode secara umum, komoditas kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang deflasi terbesar pada ketiga provinsi tersebut. Seperti Aceh yang utamanya didorong oleh penurunan telur ayam ras sedangkan di Sumatera Utara dan Sumatera Barat utamanya didorong oleh penurunan harga cabai merah,” jelasnya.
Deflasi ini juga tidak terlepas dari langkah cepat pemerintah termasuk Kementerian Pertanian dalam merespons dampak bencana hidrometeorologi. Melalui penguatan distribusi, penyaluran bantuan pangan, serta pengamanan pasokan komoditas strategis, pemerintah memastikan ketersediaan pangan pokok tetap terjaga di wilayah terdampak sehingga tekanan inflasi pascabencana dapat segera diredam.
Sementara itu, secara nasional, pada Januari 2026 terjadi deflasi sebesar 0,15 persen secara month to month, dengan penurunan indeks harga dari 109,92 pada Desember 2025 menjadi 109,75 pada Januari 2026. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat deflasi terbesar, yakni 1,03 persen dengan andil deflasi 0,30 persen. Komoditas utama penyumbang deflasi antara lain cabai merah, cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras.
“Pada Januari 2026 terjadi deflasi 0,15 persen secara month to month atau terjadi penurunan indeks harga dari 109,92 pada Desember 2025 menurun menjadi 109,75 pada Januari tahun 2026,” sebut Ateng.
Selain itu, BPS juga mencatat bahwa memasuki awal 2026, sejumlah komoditas hortikultura seperti cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah mulai memasuki masa panen. Kondisi ini meningkatkan pasokan di pasar dan turut menekan harga pangan di tingkat konsumen.
Ke depan, pemerintah akan terus memperkuat koordinasi lintas sektor dan daerah guna menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan, terutama di wilayah rawan bencana, sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan nasional.
Baca Juga : Dilantik Jadi Anggota DEN, Mentan Amran Siap Dorong Energi Hijau Berbasis Pertanian
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
