Efisensi tapi tidak efisien. Seharusnya efiensi dilakukan agar semakin lincah dan ramping justru sebaliknya, membuat program tidak berjalan dan menciptakan jutaan pengangguran di tengah krisis ekonomi.
Orang-orang baik dipinggirkan orang-orang bermasalah justru dipelihara. Kita juga melihat orang-orang mencari cara keluar dari peraturan agar bisa menyimpang dari aturan dengan menciptakan aturan baru.
Baca Juga : Ketika Kekerasan Menjadi Bahasa Politik, Kata-Kata Pun Menjadi Ancaman Nyata
Hasilnya tidak menjadikan lebih baik, karena biaya membuat aturan sangat besar sekali ujung-ujungnya aturan menjadi bertambah banyak tanpa bisa dilaksanakan dengan maksimal.
Religius tapi tidak menjalankan perintah religinya masing-masing. Meninggal masuk neraka atau jos kesurga biar menjadi hak prerogatif Tuhan, itu soal nanti yang penting urusan lancar.
Menurut psikolog klinis UGM, Pamela Andarni mengatakan, paparan berita buruk terus menerus dari gawai seseorang bisa memicu ketegangan psikologis menyebakan kecemasan, stres bahkan depresi.
Baca Juga : Polemik Haji 2026 : Kebijakan Ada Tapi Ketenangan Jemaah Masih Dipertanyakan
Kehilangan semangat dan merasa tidak berdaya ( learned helplessness), tidak mampu mengubah situasi sebenarnya bisa.
Sejalan dengan pesan Titiek Puspa untuk para pemuda dan penerus, cintai negeri kita yang indah permai agar dimampukan bangkit dari keterpurukan.
Jaga Indonesia dengan semangat dan kejujuran serta tetap waras dan tangguh. ***
Baca Juga : Swasembada untuk Siapa? Ketika Petani Batang Jeneponto Gagal Panen karena Kekeringan
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

