Efisensi tapi tidak efisien. Seharusnya efiensi dilakukan agar semakin lincah dan ramping justru sebaliknya, membuat program tidak berjalan dan menciptakan jutaan pengangguran di tengah krisis ekonomi.
Orang-orang baik dipinggirkan orang-orang bermasalah justru dipelihara. Kita juga melihat orang-orang mencari cara keluar dari peraturan agar bisa menyimpang dari aturan dengan menciptakan aturan baru.
Baca Juga : Moralitas Harus Berjalan Seiring dengan Tata Kelola yang Baik
Hasilnya tidak menjadikan lebih baik, karena biaya membuat aturan sangat besar sekali ujung-ujungnya aturan menjadi bertambah banyak tanpa bisa dilaksanakan dengan maksimal.
Religius tapi tidak menjalankan perintah religinya masing-masing. Meninggal masuk neraka atau jos kesurga biar menjadi hak prerogatif Tuhan, itu soal nanti yang penting urusan lancar.
Menurut psikolog klinis UGM, Pamela Andarni mengatakan, paparan berita buruk terus menerus dari gawai seseorang bisa memicu ketegangan psikologis menyebakan kecemasan, stres bahkan depresi.
Baca Juga : Tidak Apa-apa Kalah, yang Penting Ingat Pulang
Kehilangan semangat dan merasa tidak berdaya ( learned helplessness), tidak mampu mengubah situasi sebenarnya bisa.
Sejalan dengan pesan Titiek Puspa untuk para pemuda dan penerus, cintai negeri kita yang indah permai agar dimampukan bangkit dari keterpurukan.
Jaga Indonesia dengan semangat dan kejujuran serta tetap waras dan tangguh. ***
Baca Juga : Demokrasi di Antara Demagogi dan Pedagogi
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
