Logo Harian.news

HARIAN MAKASSAR

Antrean BBM di Sulsel Jadi Alarm Ketahanan Energi, Dekan FP-Biotam UMI Dorong Pertanian sebagai Solusi Bahan Bakar Nabati

Editor : Andi Awal Tjoheng Senin, 14 September 2026 18:42
Dekan FP-Biotam UMI Dr. Ir. Abdul Haris ||(handover_dkio@harian.news)
Dekan FP-Biotam UMI Dr. Ir. Abdul Haris ||([email protected])

“Bahan bakar nabati merupakan salah satu solusi strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Ketergantungan terhadap bahan bakar fosil tidak dapat berlangsung selamanya. Indonesia memiliki kekayaan sumber daya pertanian yang sangat besar dan harus mulai dimaksimalkan sebagai sumber energi alternatif yang dapat diperbarui,” tegas Abdul Haris.

Menurutnya, pembangunan pertanian ke depan tidak seharusnya hanya dipandang dari perspektif produksi pangan. Pertanian juga memiliki fungsi strategis sebagai penyedia bahan baku industri, biomaterial dan bioenergi. Komoditas seperti kelapa sawit, tebu, jagung, singkong, kelapa serta berbagai biomassa dan limbah pertanian memiliki peluang dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem energi terbarukan.

Baca Juga : Pantau Antrean di SPBU, Sekda Jeneponto Imbau Warga Tak Panic Buying

Gagasan tersebut sejalan dengan arah kebijakan energi nasional. Pemerintah pada 2026 telah memperkuat penggunaan biodiesel B50, yakni campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit dengan bahan bakar diesel. Kementerian ESDM menempatkan kebijakan ini sebagai instrumen untuk menekan ketergantungan impor solar sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Tidak hanya biodiesel, pemerintah juga mulai memetakan kebutuhan pengembangan bioetanol E20. Dengan kebutuhan bensin nasional sekitar 40 juta kiloliter per tahun, implementasi E20 diperkirakan membutuhkan sekitar 4 juta kiloliter etanol. Kondisi ini membuka peluang bagi sektor pertanian untuk menjadi bagian langsung dari pembangunan kedaulatan energi Indonesia.

Abdul Haris menilai pengembangan bahan bakar nabati harus dirancang hati-hati agar tidak menimbulkan kompetisi antara kebutuhan pangan dan energi. Perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, petani dan lembaga penelitian perlu bersama-sama mengembangkan bahan baku bioenergi yang produktif, efisien, adaptif terhadap lahan marginal dan tetap menjaga keberlanjutan lingkungan.

Baca Juga : Antrean Truk di SPBU Jalan Perintis Kemerdekaan Makassar Menambah Kemacetan

“Kita membutuhkan paradigma baru bahwa pertanian bukan hanya berbicara tentang apa yang kita makan, tetapi juga dapat berkontribusi terhadap energi yang menggerakkan kehidupan masyarakat. Penelitian pertanian harus diarahkan sampai pada hilirisasi, sehingga inovasi di kampus dapat menjadi solusi konkret terhadap persoalan bangsa,” ujarnya.

Menurutnya, Sulawesi Selatan memiliki peluang besar mengambil bagian dalam agenda tersebut karena memiliki basis pertanian yang kuat dan beragam sumber biomassa. Pengembangan bioetanol, biodiesel, biogas, biopelet, briket biomassa dan bentuk bioenergi lainnya dapat menjadi ruang riset sekaligus hilirisasi yang melibatkan perguruan tinggi dan masyarakat.

Pengembangan tersebut juga dapat menciptakan manfaat berlapis. Selain memperkuat kemandirian energi, pemanfaatan komoditas dan limbah pertanian sebagai sumber bioenergi berpotensi menciptakan nilai tambah di tingkat petani, membuka lapangan kerja di pedesaan, memperkuat industri pengolahan, mendorong ekonomi sirkular dan mengurangi emisi.

Baca Juga : Klarifikasi Pengelola SPBU Lita Soal Video Viral Pengisian Solar Jerigen

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]
Halaman
Penulis : HASANUDDIN UMAR

Follow Social Media Kami

KomentarAnda