Namun, hasil pemeriksaan berbeda. “Ada dokter yang bilang bisa dioperasi saat usia enam bulan, tapi yang lain sarankan tunggu sampai 10 tahun. Kami bingung dan takut salah langkah,” ujarnya.
Meski memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS), tidak semua biaya tertanggung. Biaya transportasi, obat tambahan, hingga pemeriksaan lanjutan masih harus ditanggung sendiri.
Baca Juga : Konflik Agraria PT Inhutani vs Warga di 7 Desa dan Kelurahan di Gowa Belum Usai
Sementara itu, bantuan dari pemerintah daerah belum juga menyentuh persoalan medis yang dihadapi mereka.
Pondasi Baru, Tapi Harapan Masih Rapuh
Berkat bantuan donasi dari netizen dan uluran tangan beberapa pihak, pondasi rumah baru mereka mulai dibangun.

Baca Juga : Optimalkan Kegiatan Sosial di Gowa, Sahabat Lacak & Baznas Kembali Aktif di Tahun 2026
Keluarga Haeruddin duduk termenung di atas pondasi rumah baru yang mulai dibangun ||harian.news@yusrizal
Namun, Haeruddin mengaku belum sekalipun mendapat bantuan resmi dari Pemkab Gowa.
“Pak Camat dan Pak Lurah sudah datang setelah viral, tapi belum ada solusi. Katanya anggaran tidak cukup,” imbuh Nurul.
Baca Juga : Baznas Gowa Alokasikan 1,6 Miliar untuk Program LACAK, Fokus Kemiskinan Ekstrem
Ironisnya, lokasi tempat tinggal mereka hanya selemparan batu dari pusat pemerintahan kecamatan.
“Program kemiskinan ekstrem gencar dikampanyekan, tapi keluarga kami tidak pernah terdata,” kata Daeng Paramma, kerabat Haeruddin.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

