Sebab dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, Presiden adalah Panglima Tertinggi atas AD, AL, AU (TNI) dan Polri.
Dimana publik tahu bahwa Prabowo bukanlah orang asing dalam dunia militer, beliau mantan Danjen Kopassus dan Panglima Kostrad.
Baca Juga : Menepis Skeptisisme; DPR Hadir Memberi Keadilan Untuk Rakyat
Dan jika benar Prabowo ikut mencegah pencopotan Letjen Kunto, itu justru menjadi cermin bahwa ia tidak hanya memimpin dengan kuasa, tetapi juga dengan empati.
Bahkan Gus Dur, Presiden keempat RI yang dikenal tegas dan jujur, pernah mengatakan bahwa Prabowo adalah orang yang ikhlas dan penolong. Barangkali dalam peristiwa ini, sikap itu sedang diperlihatkan.
Dari sisi pertahanan nasional, kasus ini menjadi ujian penting bagi TNI apakah ia tetap menjadi alat pertahanan negara yang netral, profesional dan bebas dari pengaruh politik transaksional, ataukah TNI sudah dijadikan alat kekuatan politik bagi kepentingan bisnis kaum kapitalis?
Baca Juga : Jusuf Kalla, “Siri’na Mangkasara”: Saat Lugas Menjadi Sikap dan Diam Bukan Pilihan
Jika penguasa dan aparat pertahanan negara sudah menjadi alat kekuatan kapitalis (pemilik modal & pengusaha), maka sistem imperialisme dimasa lalu akan terulang kembali.
Imperialisme ekonomi adalah upaya untuk menguasai atau mengendalikan perekonomian suatu negara lain, baik melalui perdagangan, investasi, pinjaman, atau bentuk lain yang memberikan keuntungan ekonomi bagi negara yang melakukan imperialisme.
Sedangkan sistem kapitalisme adalah sistem ekonomi di mana individu dan perusahaan memiliki kebebasan untuk memiliki dan mengendalikan alat-alat produksi dan sumber daya, dengan tujuan memperoleh keuntungan melalui mekanisme pasar.
Baca Juga : TNI Siapkan 514 Batalyon Teritorial di Setiap Kabupaten
Sistem ini ditandai oleh persaingan bebas, hak kepemilikan pribadi, dan peran minimal pemerintah dalam ekonomi.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

