Dari Kurir Gerilya ke Wakil Presiden: Jejak Karier dan Warisan Edukatif Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno
HARIAN.NEWS, JAKARTA – Artikel ini menyajikan analisis komprehensif mengenai sosok Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno, mencakup tiga dimensi utama: jejak karier militernya di TNI Angkatan Darat, perannya sebagai Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, serta warisan nasionalnya yang berkelanjutan.
Baca Juga : Profil Try Sutrisno: Dari Komandan Peleton hingga Wapres ke-6 RI yang Kini Berpulang
Perjalanan Hidup: Dari Kurir Gerilya Surabaya Menuju Panglima Tertinggi
Jejak hidup Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno adalah sebuah narasi tentang ketahanan, adaptasi, dan pendidikan kepemimpinan yang mendalam, yang jauh melampaui sekadar biografi seorang perwira tinggi.
Lahir pada 15 November 1935 di Surabaya, ia adalah putra sulung dari tiga bersaudara. Masa kecilnya tidaklah mulus; ia tumbuh dalam kondisi kesulitan ekonomi pasca-kemerdekaan. Ayahnya bekerja di sebuah fasilitas kesehatan selama perjuangan kemerdekaan, sementara ibunya mengurus rumah tangga. Ketika usianya baru tiga belas tahun, ia mengalami pengungsian bersama keluarganya dari Surabaya ke Mojokerto pada tahun 1945 akibat situasi politik yang kacau.
Baca Juga : Mutasi Letjen TNI Kunto Dibatalkan Loyalitas TNI Dipertanyakan
Pengalaman ini membentuk karakternya sejak dini, mengajarkannya tentang ketahanan fisik dan mental. Salah satu momen paling heroik dalam masa remajanya terjadi saat ia menjadi kurir intelijen untuk pasukan gerilya.
Ia bertugas membawa pesan-pesan rahasia antar wilayah Kediri, Kertosono, Jombang, dan Surabaya, menggunakan pecinya untuk menyembunyikan surat-surat yang telah dikodekan.
Salah satu misinya yang paling berbahaya adalah saat ia harus mengantarkan intelijen ke Surabaya dan membawa kembali suntikan penisilin untuk para pejuang yang terluka. Dalam perjalanannya, ia sempat bersembunyi di dalam kereta sapi yang digunakan oleh pasukan Belanda untuk mengelabui patroli dan berhasil lolos dari pemeriksaan.
Pendidikan juga menjadi pilar pembentuk karakternya. Ia belajar di Taman Siswa, sebuah sekolah nasionalis yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara.
Di sinilah ia menyerap keyakinan kuat bahwa kemampuan dan prestasi adalah standar utama, bukan latar belakang keluarga atau status sosial. Pengalaman ini sangat berbeda dari lingkungan elit yang pernah ia coba masuki.
Awalnya, ia gagal dalam ujian fisik pertama kali untuk masuk ke Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad), lembaga pendidikan militer yang kini dikenal sebagai Akademi Militer.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
