Transisi dari Panglima ABRI ke kursi Wakil Presiden
Pada tahun 1993 adalah langkah yang direncanakan dengan matang dan sesuai dengan mekanisme internal militer pada masa itu. Proses ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan bagian dari rencana suksesi kepemimpinan yang sudah ada.
Baca Juga : Profil Try Sutrisno: Dari Komandan Peleton hingga Wapres ke-6 RI yang Kini Berpulang
Salah satu narator sejarah menyebutkan bahwa Jenderal Murdani, yang sebelumnya menjabat sebagai Panglima ABRI, berhasil meyakinkan calon penggantinya, Jenderal Try Sutrisno, untuk mengambil inisiatif di dalam lingkungan ABRI dan mengumumkan bahwa ABRI telah mengusulkan namanya untuk menjadi calon Wakil Presiden.
Keputusan ini kemudian disahkan melalui Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) masa bakti 1992-1997, di mana ia resmi dipilih mendampingi Presiden Soeharto untuk periode pemerintahan kelima.
Pemilihan ini menegaskan peran militer sebagai aktor politik dominan dalam sistem politik Orde Baru, di mana partai politik pemerintah, Golkar, memiliki kontrol penuh atas proses pemilihan. Upacara pelantikan berlangsung pada 17 Januari 1993, menandai akhir dari karier militer resminya dan awal dari babak baru dalam kehidupan publiknya
Baca Juga : Mutasi Letjen TNI Kunto Dibatalkan Loyalitas TNI Dipertanyakan
Meskipun jabatannya sebagai Wapres bersifat de facto dan tidak memiliki kekuasaan eksekutif yang luas, perannya tetap signifikan dalam konteks stabilitas politik.
Para elite politik dan militer, termasuk para kepala staf, merespons positif terhadap berbagai proposisi reformasi politik yang mulai muncul pada periode ini. Hal ini menunjukkan bahwa posisi Try Sutrisno, sebagai mantan Panglima ABRI, memberikan bobot legitimasi dan stabilitas tersendiri dalam struktur pemerintahan.
Keberhasilan transisi kekuasaan dari Presiden Soeharto ke B.J. Habibie pada Sidang Umum MPR tahun 1998, yang terjadi di tengah gejolak reformasi, sering kali dikaitkan dengan peran moderat dan stabilisator yang dipegang oleh kalangan militer, di mana posisi dan pengalaman Try Sutrisno menjadi fondasi penting.
Dengan demikian, jejak karier militernya bukan hanya serangkaian jabatan, melainkan sebuah transformasi dari seorang pemimpin militer menjadi figur politik yang mampu menavigasi masa-masa paling genting dalam sejarah Indonesia modern.
Jabatan Militer | Periode Jabatan | Catatan Penting |
Komandan Batalyon Teknik | Sebelum 1986 | Penugasan awal setelah lulus Atekad di Kodam IV/Sriwijaya |
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) | 1986–1988 | Jabatan tertinggi di TNI-AD, persiapan menuju kepemimpinan gabungan |
Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Panglima ABRI) | 1988–1993 | Puncak karier militernya; memimpin gabungan tiga angkatan bersenjata |
Wakil Presiden ke-6 RI | 1993–1998 | Transisi dari militer ke politik, mendampingi Presiden Soeharto |
Pengunduran Diri dari Militer | 1993 | Resmi meninggalkan dinas aktif saat dilantik menjadi Wapres |
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

