Logo Harian.news

Jenderal Cerdas, Wapres Setia: Kisah Hidup Try Sutrisno

Editor : Andi Awal Tjoheng Selasa, 03 Maret 2026 17:50
Momen presiden Prabowo Subianto bersama Wapres RI ke-6, Jenderal TNI (Purn) H. Try Sutrisno. Prabowo mengenang almarhum Try Sutrisno sebagai prajurit sejati dan pemimpin yang sederhana, tegas serta mengutamakan tanah air diatas segalanya ||tangkaplayar IG@prabowo
Momen presiden Prabowo Subianto bersama Wapres RI ke-6, Jenderal TNI (Purn) H. Try Sutrisno. Prabowo mengenang almarhum Try Sutrisno sebagai prajurit sejati dan pemimpin yang sederhana, tegas serta mengutamakan tanah air diatas segalanya ||tangkaplayar IG@prabowo

Transisi dari Panglima ABRI ke kursi Wakil Presiden

Pada tahun 1993 adalah langkah yang direncanakan dengan matang dan sesuai dengan mekanisme internal militer pada masa itu. Proses ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan bagian dari rencana suksesi kepemimpinan yang sudah ada.

Baca Juga : Profil Try Sutrisno: Dari Komandan Peleton hingga Wapres ke-6 RI yang Kini Berpulang

Salah satu narator sejarah menyebutkan bahwa Jenderal Murdani, yang sebelumnya menjabat sebagai Panglima ABRI, berhasil meyakinkan calon penggantinya, Jenderal Try Sutrisno, untuk mengambil inisiatif di dalam lingkungan ABRI dan mengumumkan bahwa ABRI telah mengusulkan namanya untuk menjadi calon Wakil Presiden.

Keputusan ini kemudian disahkan melalui Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) masa bakti 1992-1997, di mana ia resmi dipilih mendampingi Presiden Soeharto untuk periode pemerintahan kelima.

Pemilihan ini menegaskan peran militer sebagai aktor politik dominan dalam sistem politik Orde Baru, di mana partai politik pemerintah, Golkar, memiliki kontrol penuh atas proses pemilihan. Upacara pelantikan berlangsung pada 17 Januari 1993, menandai akhir dari karier militer resminya dan awal dari babak baru dalam kehidupan publiknya

Baca Juga : Mutasi Letjen TNI Kunto Dibatalkan Loyalitas TNI Dipertanyakan

Meskipun jabatannya sebagai Wapres bersifat de facto dan tidak memiliki kekuasaan eksekutif yang luas, perannya tetap signifikan dalam konteks stabilitas politik.

Para elite politik dan militer, termasuk para kepala staf, merespons positif terhadap berbagai proposisi reformasi politik yang mulai muncul pada periode ini. Hal ini menunjukkan bahwa posisi Try Sutrisno, sebagai mantan Panglima ABRI, memberikan bobot legitimasi dan stabilitas tersendiri dalam struktur pemerintahan.

Keberhasilan transisi kekuasaan dari Presiden Soeharto ke B.J. Habibie pada Sidang Umum MPR tahun 1998, yang terjadi di tengah gejolak reformasi, sering kali dikaitkan dengan peran moderat dan stabilisator yang dipegang oleh kalangan militer, di mana posisi dan pengalaman Try Sutrisno menjadi fondasi penting.

Dengan demikian, jejak karier militernya bukan hanya serangkaian jabatan, melainkan sebuah transformasi dari seorang pemimpin militer menjadi figur politik yang mampu menavigasi masa-masa paling genting dalam sejarah Indonesia modern.

[wptb id=53225]

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: [email protected]
Halaman
Penulis : ANDI AWAL TJOHENG

Follow Social Media Kami

KomentarAnda