Namun, kegagalan tersebut bukanlah akhir dari mimpinya. Jenderal GPH Djatikusumo, seorang bangsawan yang juga seorang republic yang gigih, melihat potensi terpendam pada dirinya.
Djatikusumo kemudian mengatur agar Try Sutrisno mengikuti tes psikologi di Bandung, dan hasilnya memuaskan, sehingga ia pun berhasil diterima dan lulus dari Atekad pada tahun 1959. Ini adalah titik balik yang menunjukkan bahwa kesempatan sering kali datang kepada mereka yang tidak menyerah dan memiliki mentor yang melihat potensi lebih dalam.
Baca Juga : Profil Try Sutrisno: Dari Komandan Peleton hingga Wapres ke-6 RI yang Kini Berpulang
Setelah lulus, karier militernya dimulai dengan penugasan pertama sebagai Dan Ton Zipur di Kodam IV /Sriwijaya.Ini menempatkannya di salah satu wilayah strategis di Indonesia, memberinya landasan pengalaman operasional yang solid.
Namun, elemen paling penting dalam pendidikan kepemimpinannya terjadi di luar medan latihan. Dari tahun 1974 hingga 1978, ia dipercaya untuk menjabat sebagai perwira suruhan atau adjutant pribadi Presiden Soeharto.
Menjadi adjutant presiden pada masa itu adalah sebuah “sekolah” manajemen negara yang tak ternilai. Dalam empat tahun tersebut, ia belajar secara langsung tentang seni pemerintahan, diplomasi, dan tata kelola negara dari sang Presiden.
Baca Juga : Mutasi Letjen TNI Kunto Dibatalkan Loyalitas TNI Dipertanyakan
Ia mengamati secara dekat bagaimana Soeharto memimpin, terutama dalam hal menjaga ketenangan dan komposisi diri, bahkan di tengah tekanan. Ia tidak pernah terlihat marah, sebuah pelajaran tentang kepemimpinan yang tenang namun otoritatif yang akan sangat ia butuhkan di kemudian hari.
Pengalaman ini menjadikannya pemimpin yang tidak hanya kuat secara militer tetapi juga paham betul dunia politik dan administratif. Kesederhanaan dan nilai-nilai yang ia anut juga tergambar dari kisah hidupnya setelah pensiun. Saat berhenti sebagai Panglima ABRI, ia tidak memiliki rumah sendiri.
Rumahnya di Menteng, Jakarta Pusat, disediakan oleh angkatan darat melalui program cicilan lunak sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian seumur hidupnya. Detail ini, yang sering terabaikan, justru menjadi cerminan citra seorang prajurit profesional yang loyal, sederhana, dan tidak korup, sebuah warisan yang tak kalah penting dari jabatan-jabatannya.
ASPEK KUNCI | DESKRIPSI |
Nama Lengkap | Try Sutrisno |
Tempat & Tanggal Lahir | Surabaya, 15 November 1935 |
Meninggal Dunia | 2 Maret 2026, RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat |
Usia Wafat | 90 tahun |
Istri | Tuti Sutiawati |
Jumlah Anak | 7 orang (4 putra, 3 putri) |
Pendidikan | Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) lulus 1959 |
Karakteristik Unik | Pernah menjadi kurir intelijen gerilya pada usia 13 tahun |
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

