Dinasti Militer dan Transisi Kepemimpinan: Jejak Karier di Pucuk TNI
Karier militer Jenderal TNI (Purn.) Try Sutrisno merupakan studi kasus klasik dari model kepemimpinan “dari militer ke negara” yang menjadi ciri khas rezim Orde Baru.
Baca Juga : Profil Try Sutrisno: Dari Komandan Peleton hingga Wapres ke-6 RI yang Kini Berpulang
Jalur karier yang ia rintang menunjukkan evolusi seorang perwira teknis menjadi figur sentral dalam struktur kekuasaan tertinggi Indonesia pada dekade-dekade terakhir Orde Baru.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) pada tahun 1959, ia memulai karier dengan posisi komandan batalyon teknik di Kodam IV /Sriwijaya.
Penugasan ini memberinya pengalaman operasional di lapangan dan menempatkannya di wilayah strategis Sumatera Selatan, yang sering kali menjadi pusat aktivitas militer dan politik pada masa itu. Perjalanannya menunjukkan adanya promosi yang sistematis dan cepat, yang merupakan ciri khas bagi perwira-perwira yang mendapat perhatian dari pimpinan tertinggi.
Baca Juga : Mutasi Letjen TNI Kunto Dibatalkan Loyalitas TNI Dipertanyakan
Titik-titik penting dalam karier militer Try Sutrisno tercatat dengan jelas. Pada tahun 1986, ia dilantik sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), sebuah jabatan yang menjadikannya pejabat sipil militer nomor satu di lingkungan TNI Angkatan Darat.
Posisi ini adalah pintu gerbang menuju puncak pimpinan gabungan. Dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1988, ia naik pangkat dan jabatan yang lebih tinggi lagi, yaitu menjabat sebagai Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Panglima ABRI).
Sebagai Panglima ABRI, ia adalah pemimpin tertinggi dari seluruh tiga angkatan bersenjata (Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara) serta Kepolisian Negara Republik Indonesia (PNRI).
Posisi ini membuatnya menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh di Indonesia, berada di garis depan dalam pengambilan keputusan nasional. Pada tahun 1992, ketika militer sedang berada di bawah kepemimpinannya, perhatian publik dan media tertuju pada institusi tersebut.
Jabatan ini menempatkannya dalam posisi yang ideal untuk memahami dan memengaruhi dinamika politik, ekonomi, dan sosial di seluruh nusantara.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

