Ditambah lagi, jumlahnya semakin banyak, sehingga mengharuskan suku asli bersaing dengan Rohingya dalam dunia pekerjaan, kemudian puncaknya di tragedi pembantaian.
Lantas, mengapa kedatangan Rohingya ke Indonesia menjadi fenomena yang menarik untuk di delik lebih jauh? Hal ini, tidak terlepas dari kajian historis yang lebih luas sebenarnya, yang mengharuskan kita tidak berbicara kemungkinan hari ini saja, akan tetapi kemungkinan di masa yang akan mendatang.
Baca Juga : LAZ Hadji Kalla Fokus Entaskan Kemiskinan Ekstrem Lewat Program Pemberdayaan 2026
Kedatangan etnis Rohingya sebenarnya, mengingatkan kita pada sejarah kedatangan kaum zionis ke tanah Palestina. Yang dimana lambat laun menjadi persoalan karena semakin tinggi tingkat persaingan yang mengharuskan masyarakat pribumi harus minggat dari dananya sendiri.
Kesenjangan dan Penghidupan
Ketidak-kesetaraan atau perbedaan dapat diukur, antara individu, kelompok, bahkan suatu wilayah. Sehingga, perbedaan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat seperti ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan, dapat diketahui.
Baca Juga : Kementan Alokasikan Rp336 Miliar untuk Rehabilitasi Sawah Terdampak Banjir di Sumatera
Dalam hal ini, Provinsi Aceh masih dalam pusaran kesenjangan sampai saat ini, hanya saja isu kesenjangan kemiskinan di Aceh tidak digubris secara merata.
Jika, kita lihat data dari Pusat Statistik (BPS) menempatkan Aceh sebagai daerah kemiskinan di Sumatra dengan persentase 15,43%, sedangkan persentase kemiskinan di desa tercatat sebesar 17,9%, sementara di kota sebesar 10,32% (BPS) Aceh, profil kemiskinan di Aceh 2021.
Hal ini menandakan ketimpangan kemiskinan di Aceh masih banyak dan perlu diperhatikan. Bukan sebaliknya para pengungsi etnis Rohingya.
Baca Juga : Pasokan Pangan Terjaga, Aceh, Sumut, dan Sumbar Alami Deflasi Pascabencana
Baca berita lainnya Harian.news di Google News

